Dibanding Terpal, Budidaya Ikan Sistem Plastik Dinilai Lebih Menguntungkan
YOGYAKARTA — Sistem budidaya ikan memanfaatkan kolam plastik atau sistem plastik dinilai lebih menguntungkan dibanding budidaya menggunakan kolam terpal.
Gabungan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Minaharjo Manunggal, di desa Triharjo, Wates, Kulonprogo dalam satu tahun terakhir, telah memanfaatkan areal lahan tebu seluas 1,2 hektar sebagai kawasan sentra budidaya ikan sistem plastik. Sebanyak 198 kolam yang terletak di tengah areal persawahan minim air, dikelola oleh gabungan 11 kelompok pembudidaya dengan anggota mencapai 220 orang lebih.
Ketua Pokdakan Minaharjo Manunggal, Mujiono menyebutkan pemanfaatan plastik sebagai kolam ikan dinilai lebih menguntungkan karena memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan terpal. Jika penggunaan terpal hanya mampu bertahan selama 1 hingga 2 tahun, kolam plastik dianggap mampu bertahan hingga 2 tahun lebih.
“Penggunaan plastik lebih bagus karena memiliki keawetan lebih panjang dibandingkan terpal. Harganya pun juga tidak terpaut jauh,” katanya.
Sebagaimana sistem terpal, salah satu kunci pemanfaatan kolam ikan sistem plastik disebutkan Mujiono terletak pada proses pemasangan. Dimana proses pemasangan harus dilakukan secara cermat agar tidak terjadi kebocoran ataupun jebolnya kolam saat terjadi hujan.
“Keuntungan sistem plastik ini jauh lebih murah dibandingkan kolam semen. Hanya saja kelemahannya terletak pada cepatnya perubahan suhu air saat musim kemarau. Dimana saat siang panas terik, sedangkan saat malam hari sangat dingin. Ini kadang menjadi masalah bagi ikan,” katanya.
Untuk mengatasi hal itu, pemasangan kolam terpal biasanya dilakukan dengan menaruh sekam dibawah dasar kolam. Selain itu kolam juga dibuat di dalam tanah sehingga setiap sisinya ditahan oleh tanah. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga suhu air agar lebih stabil.
Dengan ukuran kolam 4 x 6 meter persegi, dan taburan benih ikan sebanyak 2.500 hingga 3.000 bibit per kolam, Pokdakan Minaharjo Manunggal sendiri, mampu menghasilkan lima kwintal ikan lele siap jual per minggunya. Dengan penambahan kolam yang ada, jumlah ikan yang dihasilkan diperkirakan akan mencapai 2 ton per minggu dalam waktu dekat ini.
“Saat ini kendala kami adalah belum adanya jaringan listrik yang mengalir ke wilayah sentra perikanan ini. Sehingga seluruh kebutuhan penerangan ataupun pompa air menggunakan diesel. Akses jalan menuju lokasi juga belum bagus, masih berupa jalan tegalan. Kita berharap pemerintah dapat menfasilitasi,” katanya.