Cuaca dan Serangan Hama Turunkan Produksi Padi Petani Ketapang

LAMPUNG — Cuaca kemarau panjang saat memasuki masa tanam di wilayah Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan berdampak pada penurunan hasil produksi tanaman padi milik petani di wilayah Desa Karangsari dan Desa Penengahan Kecamatan Penengahan yang memasuki masa panen awal Oktober ini.

Menurut Sarimin, warga Dusun Gunung Botol Desa Penengahan dari total setengah hektare lahan sawah yang ditanam dengan padi varietas IR 64 mengalami penurunan hasil yang sangat drastis dibanding saat panen sebelumnya berdasarkan jumlah karung padi yang diperolehnya.

Pada panen sebelumnya ia mencatat hasil panen padi IR 64 yang ditanamnya memperoleh hasil sebanyak 20 karung. Sementara pada masa panen kali ini mendapatkan hasil sebanyak 8 karung setelah dipisahkan dari jerami dengan sistem gepyok padi tradisional.

Sistem gepyok masih dilakukan oleh petani akibat hasil yang lebih sedikit bahkan sebagian besar tanaman padi miliknya tidak berisi akibat diserang hama tikus yang menggasak padi miliknya.

“Saat musim kemarau bertepatan dengan masa padi berisi namun pasokan air dari sungai dengan menggunakan mesin sedot tidak maksimal sehingga imbasnya bulir padi tidak berisi ditambah serangan hama tikus menyerang,” keluh Sarimin saat ditemui Cendana News tengah mengayak padi yang selesai digepyok, Senin (9/10/2017)

Proses pemanen padi sistem gepyok di Kecamatan Ketapang /Foto: Henk Widi.

Pada musim kedua tahun ini dampak cuaca panas berimbas banyak tanaman padi tumbuh namun tidak berisi. Akibatnya  dalam satu petak tanaman padi yang dimilikinya hanya menghasilkan beberapa tenggok (wadah dari bambu) gabah yang sebagian dipanen dengan sistem bawon (bagi hasil).

Sistem bawon tersebut diakuinya masih diterapkan oleh petani di wilayah tersebut karena banyak petani yang mengandalkan hasil dari lahan pertanian milik warga pemilik lahan. Sementara sebagian petani lain menggunakan sistem upahan dari masa tanam hingga masa panen menggunakan mesin.

Sistem bawon dengan bagi hasil 7:1 tersebut masih umum dilakukan oleh petani di wilayah tersebut dimana untuk sebanyak 7 kaleng atau ember sebanyak 1 kaleng menjadi bagian pekerja bawon dan sebanyak 6 kaleng menjadi bagian pemilik lahan.

Sarimin mengaku meski penurunan hasil produksi tersebut tidak lantas membuat dirinya mengurangi pembagian karena sebagian pekerja dengan sistem bawon mengetahui kondisi cuaca dan dampak serangan hama yang menyerang padi di wilayah tersebut.

Johan dengan padi jenis ketan yang kerdil akibat kekurangan air /Foto: Henk Widi.

Pada musim panen kedua pada tahun ini hasil panen mengalami penurunan sekitar 50 persen akibat serangan hama siput, burung pipit dan tikus.  Kondisi ini membuat dirinya tidak berniat menjual hasil panen padi miliknya melainkan hanya dipergunakan untuk stok kebutuhan sehari hari hingga menjelang masa tanam berikutnya.

Musim tanam berikutnya diprediksi akan berlangsung pada Januari tahun mendatang. Padahal musim sebelumnya ia menjual gabah hasil panennya saat panen melimpah namun saat ini berkurangnya hasil panen miliknya tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Johan, petani lain penanam padi jenis ketan putih mengungkapkan dampak kemarau dan serangan hama tikus berimbas tanaman padi miliknya mengalami gangguan pertumbuhan beberapa petak d iantaranya bahkan terlihat kerdil meski padinya cukup berisi.

Pada masa tanam semester kedua ini laki laki yang menanam sebanyak enam petak padi ketan putih tersebut biasanya memperoleh hasil sekitar empat karung saat ini menurun hingga dua karung.

“Saya memang menanam padi jenis ketan untuk bahan pembuatan kue dan tapai namun hasilnya menurun drastis karena kemarau dan juga serangan hama,” terang Johan.

Selain penurunan hasil produksi gabah yang dimiliki oleh petani Kecamatan Ketapang petani di wilayah Desa Tetaan Kecamatan Penengahan yang memiliki lahan pertanian padi memasuki masa mrata (padi berisi) mulai diserang hama walang sangit, lembing , wereng yang berimbas pada layunya daun padi dan mengurangi isi padi atau dikenal dengan gabuk.

Solihin, petani setempat bahkan sudah mulai melakukan penyemprotan menggunakan pestisida meminimalisir serangan hama walang sangit,lembing dan wereng.

“Serangan hama bisa mengakibatkan penurunan hasil produksi padi sehingga saya memilih mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli obat obatan agar hasil padi bisa maksimal,” ungkap Solihin.

Lokasi sawah yang tak jauh dari STA 14 Jalan Tol Trans Sumatera diakuinya masih bisa dipergunakan sebagai lokasi bertani. Sementara lahan pertanian milik warga lain terimbas proyek JTTS sehingga banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi lahan perumahan oleh sebagian warga yang rumahnya terimbas JTTS.

Lihat juga...