LEBAK – Capaian imunisasi Measles Rubella (MR) di Banten menjadi yang terendah di Pulau Jawa. Penolakan masyarakat tercatat menjadi faktor utama penyebab masih belum optimalnya kegiatan tersebut.
Di Banten pelaksanaan imunisasi MR juga dilakukan serentak pada Agustus- September. Yang menjadi sasaran adalah anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun.
“Rendahnya cakupan imunisasi MR itu karena adanya penolakan masyarakat,” kata Kepala Seksi Surveilen dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr Rostina, Jumat (6/10/2017).
Dari data yang dimiliki Dinas Kesehatan Banten, Realisasi imunisasi MR untuk Provinsi DKI Jakarta dari sebanyak 2.446.569 anak terealisasi 93,80 persen. Jawa Barat dari 12.112.181 anak terealisasi 95,57 persen, Jawa Tengah dari 7.839.325 anak terealisasi 99,53 persen dan Yogyakarta dari 775.484 anak terealisasi 96,54 persen.
Jawa Timur dari 8.468.640 anak terealisasi 105,54 persen. Sedangkan, Provinsi Banten peringkat terendah dari 3.322.185 anak terealisasi 92,10 persen.
Dengan capaian tersebut, diharapkan wali kota dan bupati se- Provinsi Banten bekerja keras untuk memerintahkan semua sektor untuk mengajak masyarakat tidak ditemukan lagi ditolak imunisasi MR.
“Kami yakin jika kerja keras itu direalisasikan Banten bisa mencapai target nasional di atas 95 persen,” katanya.
Dinas Kesehatan Banten masih tetap optimistis imunisasi MR di Banten bisa mencapai target nasional. Sebab, sisanya target sebanyak 2,9 persen bisa terealisasi jika pesantren besar, seperti Darul Quran Cipondoh 1.500 santri dan Darul Naim Lebak 1.000 santri mau diimunisasi MR.
Pelaksanaan imunisasi MR di Provinsi Banten diperpanjang dua pekan kedepan hingga 14 Oktober 2017. “Kami minta masyarakat tidak ada lagi penolakan terhadap imunisasi MR,” katanya.
Dinkes Provinsi Banten juga menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk pencapaian imunisasi MR. Pelaksanaan imunisasi harus didukung karena sangat penting guna mencegah kematian dan juga penyakit kecacatan tubuh akibat tidak divaksin campak dan rubella.
Selama ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit kerapkali terjadi di Banten akibat belum tuntasnya vaksin campak dan rubella itu. Karena itu, bagi pondok pesantren yang menolak imunisasi MR akan didatangi bersama MUI setempat.
“Kami minta santri ponpes dapat divaksin imunisasi MR guna mempersiapkan kedepan generasi bangsa yang sehat dan daya tahan tubuh kuat,” pungkasnya. (Ant)