Budaya ‘Nembang’Merariq Masyarakat Lombok Terancam Punah

LOMBOK – “Nembang” baca lontar pada setiap acara sorong serah aji kerame dalam setiap acara merariq (pernikahan) masyarakat Suku Sasak Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan salah satu bagian ritual sakral yang dilaksanakan masyarakat pada setiap acara merariq.

Acara “nembang” membaca lontar jejawen sendiri merupakan acara terakhir dari seluruh rangkaian acara merariq pada masyarakat Lombok, di mana di dalamnya juga berlangsung proses sorong serah aji kerame.

Sorong serah aji kerame merupakan proses serah terima dan pemberitahuan dari pihak keluarga pengantin laki, kepada keluarga pengantin perempuan, atas anaknya yang telah dinikahi dengan cara kawin lari.

Dalam acara nembang ini, antara Pembayun (pemandu adat) pengantin laki dan perempuan biasanya saling menimpali dan sedikit berdebat terkait proses merariq antara pengantin laki dan perempuan, menggunakan bahasa Sasak halus, apakah sudah sesuai adat atau tidak.

“Tapi, sayang meski termasuk salah satu ritual kebudayaan sangat penting, tapi sekarang ini tidak banyak masyarakat, khususnya generasi muda yang bisa “nembang” membaca lontar”, kata tokoh adat masyarakat Suku Sasak Lombok, Maniq Taufan kepada Cendana News, Minggu (22/10/2017).

Menurutnya, tidak banyak generasi muda sekarang ini yang mau belajar “nembang” baca lontar dan jadi Pembayun, sehingga kita krisis regenerasi dan hanya masih tersisa satu dua orang, itu pun dari kalangan generasi tua.

Kalau proses regenerasi di kalangan anak muda tidak dilakukan, maka bukan tidak mungkin tradisi kebudayaan “nembang” membaca lontar akan punah dan hanya tinggal kenangan.

“Harus ada regenerasi kalau tradisi dan nilai kebudayaan lokal seperti “nembang” membaca lontar bisa tetap terjaga, jangan sampai anak cucu kita nantinya melupakan dan nilai kebudayaannya sendiri”, katanya.

Ditambahkan, upaya untuk menjaga dan merawat kebudayaan suku Sasak Lombok bukan tidak pernah dilakukan. Pada 2009, dirinya pernah mengusulkan kepada pemerintah, supaya selain dimasukkan menjadi mata pelajaran muatan lokal, dirinya juga pernah mengusulkannya menjadi salah satu program di setiap desa melalui Dana Desa, tapi kurang mendapatkan respon.

Sebelumnya, Ketua Majelis Adat Sasak (MAS) Lombok juga meminta kepada pemerintah supaya tidak abai terhadap tradisi dan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang, agar  bisa tetap dijaga dan dilahirkan.

Mengingat, menjaga adat istiadat dan kebudayaan lokal sebagai ciri khas kepribadian masyarakat suku Sasak Lombok, dengan menjaga dan melestarikan budaya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan datang berlibur ke Lombok.

“Jangan salah, wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara, ketika melakukan liburan ke suatu daerah termasuk Lombok, selain menyukai keindahan alam dan pantai, juga senang dengan keunikan seni dan kebudayaan suatu daerah”, katanya.

Lihat juga...