Agus Pustika Ubah Koran Bekas Jadi Topeng Berkualitas Ekspor
DENPASAR — I Wayan Agus Pustika, pria kelahiran Denpasar 30 silam ini mempu memanfaatkan koran bekas menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Sudah ribuan topeng animasi maupun tokoh fiksi ia ciptakan dengan Omset mencapai hingga puluhan juta rupiah.
Ia menceritakan, usahanya ini berawal dari iseng karena ada teman yang meminta untuk membuatkan satu buah topeng.
“Awalnya ada teman saya yang suka sama karakter salah tokoh fiksi, dia minta saya membuatkannya. Karena teman dia memesan di Bandung tidak kunjung jadi,” sebut Agus saat ditemui Cendana News, Selasa (17/10/2017).

Karena dirasa bagus, lanjut Agus akhirnya temannya tersebut memasarkan hasil karyanya ke beberapa teman komunitasnya. Dari sana orderan mulai berdatangan.
“Kebanyakan pesanan datang dari Bandung dan Surabaya. Saya belajar secara otodidak dari belajar secara disiplin di youtube,” ujar pria yang masih berstatus lajang ini.
Agus menambahkan, untuk membuat topeng berbahan limbah koran bekas terbilang susah-susah gampang, pembuatannya harus telaten.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain koran bekas, lem kertas dan plamir serta tambahan cat warna untuk sentuhan akhirnya. Bahan baku dipasok dari rekanan atau dibeli dari para pengepul.
“Untuk hasilnya tidak sama persis dengan foto atau karakter topeng aslinya. Ya bisa dikatakan 11-12 lah,” jelasnya.
Selain menerima pesanan dari beberapa kota di nusantara, pesanan juga datang dari luar negeri. Kebanyakan dari Australia. Mereka cenderung memesan dari karakter toko fiksi seperti spiderman, Batman, Jokers dan karakter lainnya.
“Untuk Harga satu topeng dihargai mulai dari 70 ribu hingga 200 ribu, tergantung tingkat kesulitan,” sebutnya.
Kalau suka dukanya dalam usaha ini hampir tidak ada. Hanya saja lebih bersifat pada saat faktor alam saja.
“Setiap topeng itu kan harus dijemur. Jika biasanya rampung dalam dua atau tiga hari maka jika hujan bisa sampai seminggu bahkan lebih,” pungkas Agus.
Di Bali sendiri usaha pembuatan topeng berbahan baku koran bekas ini tergolong masih baru, bahkan hanya satu-satunya yang ada di pulau seribu pura ini.