Agus Bei Dedikasikan Hidup untuk Mangrove

BALIKPAPAN — Salah Seorang warga Balikpapan Agus Bei belum lama ini memperoleh penghargaan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu Kalpataru 2017. Pria kelahiran Banyuwangi ini meraih kalpataru karena ikhlas menanam pohon mangrove di lingkungan sekitar dan kepedulian maupun inovasinya terhadap lingkungan hidup.

Agus menceritakan sejak tahun 2000 an aksi menanam mangrove mulai dilakukannya. Gerakan menanamnya diawali ketika melihat di lingkungan sekitar yang semakin panas dan pohon-pohon yang dulu tinggi sudah dibabat habis.

“Cuaca semakin panas di sekitar rumah dan pohon-pohon yang semakin berkurang adalah salah satu untuk tergerak melakukan aksi menanam. Saat itu ya rogoh gojek sendiri secara perlahan tanam mangrove di depan rumah walau itu tanah milik pemerintah,” tuturnya Rabu (11/10/2017).

Perlahan upaya tanam pohon mangrove mulai diperkenalkan ke masyarakat sekitar khususnya di mana Agus tinggal yaitu di kawasan Graha Indah. Beruntung tahun 2005 ia terpilih menjadi ketua RT, melalui itu pihaknya mencoba terus memperkenalkan masyarakat sekitar untuk menanam pohon mangrove. Kemudian berbagai kalangan memberikan bantuan bibit mangrove dan pihaknya menanam bersama masyarakat sekitar.

“Memang menanam pohon mangrove untuk hasilnya baru akan terlihat 5 hingga 10 tahun yang akan datang. Tapi itu tak mengecilkan upayanya untuk menjaga lingkungan sekitar dengan mangrove. Terbukti setelah 10 tahun pohon mangrove yang ditanami sudah rindang dan tidak panas lagi,” terang pria kelahiran September 1968.

Disebutkannya, kini sudah lebih dari 15 ribu lebih mangrove sudah ditanami di kawasan Graha Indah dengan luas area 12 hektare. Bahkan kawasan itu telah dinyatakan sebagai kawasan destinasi wisata Mangrove center. Karena dengan menyusuri sungai di atas pohon mangrove telah ada habitat hewan seperti bekantan dan burung.

Setelah meraih penghargaan Kalpataru semangatnya memperkenalkan hutan mangrove tak akan padam. “Sama seperti semula, untuk kegiatan masalah konservasi hutan mangrove sampai akhir hayat karena kita tidak hanya butuh komitmen tapi aksi nyata menanam dan memelihara,” gebu pria yang memiliki dua anak ini.

Menurutnya, yang terjadi saat ini kondisi perubahan cuaca sudah terjadi. “Kita sekarang sudah merasakan panas yang luar biasa, angin yang kencang dan ini sangat mencolok kita rasakan. Itu akibat adanya degradasi hutan dan alih fungsi lahan,” tandasnya.

Karena itu, pihaknya akan terus memperluas menanam pohon mangrove tidak hanya Kota Balikpapan namun masyarakat luas. Karena tidak semua masyarakat paham akan pohon mangrove.

“Tidak semua orang memahami Mangrove. Tanaman ini bagian dari netigasi perubahan iklim. Mangrove yang tumbuh alami juga punya kelemahan apabila sedimen berlebihan juga menyebabkan matinya pohon, akibat abrasi juga bisa mati. Karena nya perlu khusus dalam penanganannya,” imbuhnya.

Ia yakin dengan melakukan inovasi dan aksi menanam pohon mangrove lingkungan sekitar akan terjaga dengan baik. Dan memperkenalkan masyarakat secara luas terhadap mangrove juga bagian dari tugasnya.

“Apa yang kita pertahankan langsung aksi, tidak perlu kampanye. Saya nggak perlu kampanye. Tukang tanam saja,” tutupnya.

mangrove center Graha Indah yang menjadi destinasi wisata/Foto: Ferry Cahyanti.
Lihat juga...