38 Desa di Kabupaten Ende, Kekeringan
ENDE – Kekeringan yang melanda hampir sebagain besar wilayah di provinsi Nusa tenggara Timur (NTT) juga berlangsung di kabupaten Ende. Sebanyak 38 desa yang berada di 15 kecamatan mengalami kekeringan yang mengakibatkan gagal panen dan gagal tanam.
Demikian disampaikan Albert Yani, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Ende kepada Cendana News, Minggu (15/10/2017), terkait ancaman bahaya kekeringan di kabupaten Ende.

Dikatakan Albert, pihak desa sudah membuat laporan dan saat ini pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial dan Pertanian, agar segera melakukan intervensi terkait permasalahan ini yang harus segera diatasi.
“Laporan dari desa sudah kami terima, dan kami juga sudah lakukan koordinasi dengan dinas terkait dan Bupati Ende, sehingga diharapkan dalam waktu dekat akan dilakukan langkah-langkah penanganannya,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian, Marianus Alexander, mengakui adanya laporan dari desa terkait kekeringan yang berdampak kepada rusaknya tanaman pertanian, sehingga ditakutkan akan terjadi gagal panen dan gagal tanam.
Tanaman pertanian yang ditanam periode Juli hingga September 2017 terdapat sekitar 20 sampai 50 hektare yang mengalami kekeringan dan bisa dipastikan akan terjadi gagal panen, sementara yang ditanam periode sebelumnya sudah dipanen.
“Untuk membantu petani yang kekurangan air, kami memberi pinjam pakai mesin pompa air bagi petani yang masih memiliki persediaan air, tapi kalau yang debit airnya menurun drastis dan hampir tidak ada air tentu tidak bisa dipinjamkan,” ungkapnya.
Kepala Dinas Sosial, Yeremias Bore, mengatakan, pihaknya akan segera menyalurkan bantuan berupa beras kepada desa-desa yang mengalami kekeringan, menurut laporan yang sudah masuk ke dinasnya terdapat 38 desa yang ada di 15 kecamatan, sehingga dalam waktu dekat akan segera didistribusikan beras cadangan bantuan pangan.
“Bantuan ini memang sesuai dengan situasi di lapangan, di mana masyarakat mengalami gagal panen akibat kemarau panjang yang berdampak kepada kekeringan dan adanya ancaman rawan pangan,” pungkasnya.