Warga Palas Gunakan Jasa Suntik Sumur Dapatkan Air Bersih

LAMPUNG — Datangnya musim kemarau yang mulai melanda sebagian wilayah Lampung Selatan berimbas debit air bersih di sejumlah sumur gali berkurang. Mesin pompa sudah tak lagi bisa memenuhi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan mandi,cuci dan keperluan lain.

Tumin, warga Dusun Kuningan Desa Tanjungsari Kecamatan Palas terpaksa mempergunakan jasa suntik sumur di sumur gali, yang debitnya mulai berkurang akibat musim kering. Meski terpaksa mengeluarkan uang lebih banyak namun dirinya terpaksa melakukan proses suntik sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih dibandingkan harus membeli.

Proses suntik sumur di wilayah tersebut saat ini sudah menjadi tren pasca warga pemilik sumur dalam mulai tidak mendapatkan sumber air bersih yang melimpah seperti saat musim penghujan.

Mengeluarkan sekitar Rp500 ribu untuk proses suntik sumur diakui Tumin lebih praktis dilakukan, dibandingkan harus terus menerus membeli air dari tangki penjual air bersih yang berasal dari kecamatan lain serta air galon untuk kebutuhan air bersih.

“Jika dikalkulasikan proses pengerjaan suntik sumur memang masih mahal.  Namun setelah dilakukan suntik sumur, air kembali lancar sehingga kami tidak perlu membeli air. Selain itu  dua pekan lagi kami memerlukan air dalam jumlah banyak untuk hajatan,” tutur Tumin, Jumat (1/9/2017)

Proses suntik sumur yang sudah dilakukan sepekan lalu oleh ahli sumur bor diakuinya cukup efektif dalam mengatasi kebutuhan akan air bersih keluarganya. Meski dirinya berencana akan membuat sumur bor saat sudah memiliki cukup dana.

Jasa suntik sumur gali yang debitnya sudah tak besar terbilang masih murah sebesar Rp500 ribu dibandingkan jasa pembuatan sumur bor di wilayah tersebut yang kini sudah berkisar Rp13 juta hingga Rp15 juta.

Proses penyuntikan sumur nyaris sama dengan proses pengeboran sumur bor. Hanya saja kata Tumin, suntik sumur memiliki tujuan membuat lubang tambahan pada bagian dalam sumur sehingga akan muncul mata air baru yang debitnya lebih besar.

Pemasangan peralatan berupa pipa dan pengerjaan yang rumit membuat proses tersebut hanya bisa dikerjakan oleh orang yang memiliki keahlian khusus dalam suntik sumur.

“Prosesnya juga lebih rumit dari sumur bor namun biayanya masih terbilang murah sehingga sebagian warga memilih menggunakan sistem suntik sumur sebagai solusi mengatasi kekurangan air,” terang Tumin.

Berbeda dengan Tumin, beberapa warga di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas terpaksa membeli air bersih dari penjual air yang membawa dua buah bak penampungan air atau tandon air menggunakan kendaraan L300. Penjual air itu  berkeliling ke perumahan warga.

Naryo, warga yang masih membeli air dari penjual air keliling mengaku masih membeli air bersih semenjak dua pekan terakhir dengan ukuran 1000 liter seharga Rp75ribu dan dipergunakan untuk kebutuhan selama empat hari.

Naryo mengungkapkan terpaksa membeli air bersih semenjak debit air di sumur miliknya sudah tidak banyak sementara proses pembuatan sumur suntik sudah tidak bisa dilakukan karena bagian atas sumur sudah dibangun secara permanen sekaligus sebagai tandon air.

“Sebetulnya bisa dilakukan proses suntik air namun karena kondisi sumur sudah dibuat permanen kami tidak bisa melakukannya,rencananya malah akan membuat sumur bor agar tidak harus membeli air bersih,” kata Naryo.

Setiap beberapa hari sekali saat air di penampungan habis, ia membeli dua tandon masing masing 520 liter seharga Rp75 ribu per seribu liter dengan bonus sebanyak 40 liter. Akibatnya Naryo harus merogoh kocek cukup dalam untuk kebutuhan air bersih akibat kekeringan yang masih melanda wilayah tersebut.

Dia menyebut terpaksa harus berhemat dengan menggunakan air bersih untuk keperluan mandi dan mencuci saja sementara untuk keperluan minum dirinya membeli air galon.

Sipon, warga di desa yang sama terbilang masih beruntung karena memiliki sumur dengan kedalaman 15 meter masih bisa menimba airnya menggunakan tali timba. Hal itu ia lakukan akibat mesin pompa airnya yang terhubung dengan pipa sudah tak mampu menjangkau bahkan sempat rusak akibat terbakar. Pada saat musim hujan Sipon menyebut kedalaman air sumurnya bisa mencapai 8 meter namun kini sudah mencapai kedalaman 13 meter.

“Tali kerekan timba sepanjang lima belas meter saja sudah mentok ditambah mesin pompa sudah rusak karena kemarin dipaksa menyedot sampai terbakar,” ujar Sipon.

Hujan yang belum turun dengan intensitas tinggi membuat sumur warga di Desa Tanjungsari mengalami pengurangan debit air sehingga sebagian warga terpaksa membuat sumur suntik, sebagian membeli air dan sebagian masih mengambil air dengan menimba.

Beberapa warga bahkan diantaranya terpaksa mengambil air di sungai menggunakan jerigen diangkut menggunakan sepeda dan motor untuk ditampung di bak bak penampungan yang mereka miliki.

Air bersih mulai lancar paska sumur milik Tumin dilakukan proses suntik sumur /Foto: Henk Widi.
Penjual air bersih keliling menggunakan tandon melayani kebutuhan warga /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...