Warga Nobar Film G30S PKI di Pos 1 KOPASSUS

JAKARTA – Ratusan warga memenuhi bundaran area penjagaan Pos 1 Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (24/9/2017). Mereka sengaja datang untuk nonton bareng  film PengKhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) yang ditayangkan Infolatha/Pen Makopassus lewat Videotroon di Pos 1.

Sebelum film itu diputar, terlebih dahulu warga bersenam ria di area tersebut. Jalan sisi kiri arah menuju Taman Mall Graha Cijantung pun ditutup. Lalu-lalang kendaraan terfokus hanya di sisi kanan jalan.

Usai senam, tepat pukul 08.30 WIB, film sejarah itu diputar. Warga sangat antusias menyaksikan film tersebut. Mereka duduk bersila di jalan beraspal tanpa mengenakan alas. Sebagian dari mereka ada yang duduk di trotoar jalan, dan  duduk di  taman bundaran Pos 1 yang dalam keseharian tidak diPerkenankan siapapun menginjak rerumputan di taman itu.

Terlihat pula, warga berdiri menyender dipagar dan berdiri di tepi jalan. Mereka semua sangat antusias menyaksikan tontonan gratis film sejarah. Beberapa ibu terlihat mengajak putra putrinya dengan membawa bekal makanan dan air mineral.

Lubis,  warga Lebak Para, Cijantung, mengaku sengaja datang dengan putrinya yaitu Azahra, kelas 5 SD untuk nonton film tersebut. Semalam, kata dia,  di lingkungan tempat tinggalnya, di RW 05 Cijantung juga di putar film tersebut, tapi lantaran dirinya harus mengikuti pengajian di rumah saudaranya di Ciracas, ia pun tak bisa nobar bersama warga. Sepulang dari Ciracas, nobar pun sudah bubar.

Dikatakan wanita usia 47 tahun ini, dengan menonton film G30S PKI mengingatkan dirinya pada masa lalu ketika ia masih kecil. Lubis mengatakan, di setiap penghujung bulan September film sejarah ini kerap diputar oleh TVRI.

Lubis pun tak pernah luput duduk manis di depan layar TV menyaksikan film sejarah itu bersama keluarganya.

“Tahun 1998-an, film ini tidak ditayangkan lagi. Makanya, begitu film ini mau diputar ulang, saya senang banget, ya,” kata Lubis, kepada CendanaNews, Minggu (24/9/2017).

Melalui film itu, kata Lubis, dirinya bisa  mengajarkan sejarah kepada anaknya. Pasalnya, selama ini, televisi  hanya menayangkan sinetron dan drama yang tidak bermutu bagi perkembangan anak, minim edukasinya.

Padahal, kata dia, saat dirinya sekolah dulu pengetahuan sejarah sangat gamblang dijelaskan lewat pelajaran PMP dan PSPB. Kini, tambah dia, pemerintah sudah saatnya  mengingatkan ke perusahaan TV, agar menyiarkan film sejarah seperti ini. Apalagi pengetahuan sejarah anak-anak dari sekolah yang didapatpun sangat minim, terkait G30S PKI ini.

Contohnya, jelas dia, anaknya saat nonton film Pengkhianatan G30S PKI, hari ini saja banyak bertanya. Apa itu revolusi, PKI, kenapa jenderal-jenderal dibunuh, dan lainnya.

“Saya prihatin pemahaman sejarah anak-anak sangat minim. Bangsa yang besar itu harus ingat jasa-jasa pahlawan. Negara ini merdeka karena perjuangan pahlawan dengan darah dan air mata,” ungkap Lubis.

Dirinya sangat merasakan perihnya perjuangan para prajurit dalam memerdekan Indonesia dari pemberontakan PKI. Maklum saja, (alm) ayahnya Lubis adalah prajurit Angkatan Darat yang pernah mendapat penghargaan Satya Lencana.

Terkait Supersemar yang hingga kini masih menjadi pertanyaan banyak orang, Lubis tidak mau ambil pusing. Menurutnya, kisruh Supersemar tentang benar dan tidaknya, biarlah pemahaman sejarah yang menilai. Karena nyatanya Pak Soeharto memang tampil memberanggus PKI pada 1965 itu.

“Sejarah itu tertuang dalam film ini, dan sebagai bangsa yang besar harus menghormati pahlawannya. Masalah kisruh Supersemar, biar sejarah yang mengukir,” ujar Lubis.

Warga Cibubur, Ika Widya NR (20), mengaku belum pernah nonton film Pengkhianatan G30S PKI, makanya ia sengaja datang ke Pos 1 Kopassus untuk menyaksikan film tersebut.

“Saya belum pernah nonton filmnya, di sekolah cuma dijelasin peristiwanya gimana, terus berkunjung ke Monumen Pancasila di Lubang Buaya, dijelaskan lagi,” ujar Ika.

Setelah nonton film ini, Ika mengaku alur cerita peristiwa yang dijelaskan ketika dia masih SD, hampir persis dengan film yang ditontonnya, di Pos 1 Kopassus, pada Minggu (24/9/2017).

“Meski alurnya sama, tapi film ini lebih detail. Saya jadi lebih paham sejarah. Nonton film ini pembelajaran agar generasi muda tidak ditipu komunis, jangan ada lagi di Indonesia,” ujar mahasiswi Stikes ini.

Dia berharap, agar film ini bisa diputar kembali di sekolah-sekolah untuk pemahaman sejarah bangsa.

Adapun Erica (20), warga Ciracas mengaku pernah nonton film tersebut saat berkunjung ke Lubang Buaya, ketika masih duduk di kelas 2 SMP 174. Setelah itu tidak pernah menonton lagi. Dengan diputar kembali film ini, dirinya mengaku senang.

“Saya setuju film ini diputar lagi. Film ini peristiwa kelam, tapi tetap harus tahu karena ini penghianat bangsa ingin ngapus Pancasila, karena kan bukan saja jenderal yang dibunuh, tapi juga ulama dan santri,” ujar Erica.

Menurutnya, generasi muda harus paham sejarah, termasuk juga dirinya. Dan disampaikan dia, bahwa  tak dinafikkan kalau masih banyak generasi muda yang tidak lain adalah teman-temannya  yang masih belum paham sejarah film Pengkhianatan G30S PKI.

“Masih banyak kok, teman-teman saya yang belum tahu kisah kelam PKI berontak bangsa ini,” katanya.

Terkait peran sosok Pak Soeharto dalam film ini banyak yang menilai terlalu lebay. Erica tidak sependapat. Menurutnya, peran Pak Harto yang tergambar di  film ini bagus, bersikap tegas dalam bertindak mengamankan negara dari pengkhianat komunis.

“Pro kontra biasa, ya. Setiap orang berhak menilai. Tapi, di mata saya setelah nonton film ini dan juga dengar cerita dari ayah saya, ya Pak Harto memang tegas,” ujar Erica.

Lihat juga...