Tradisi Bancakan Masih Lestari di Lampung Selatan
LAMPUNG — Kehidupan masyarakat pesisir pantai di Kabupaten Lampung Selatan masih sangat kental dengan budaya kebersamaan dan kegotongroyongan, khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dan petani, pekebun.
Kegotong royongan dan kebersamaan masyarakat pesisir tersebut masih terlihat saat kegiatan kelahiran bayi, pernikahan, bersih pantai, syukuran pembuatan perahu dengan makan bersama sebagai sebuah simbol kebersamaan tanpa memandang perbedaan.
Tradisi makan bersama masyarakat pesisir pantai di Lampung Selatan tersebut masih cukup kental terlihat di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, yang masih memegang teguh sikap gotong royong, di antaranya dalam pembuatan akses jalan desa, pengelolaan tempat wisata serta acara acara lain.
Saat kaum laki-laki melakukan pembuatan jalan pertanian, bagan atau perahu, para wanita gotong royong bahu-membahu menyiapkan hidangan yang akan dimakan secara bersama, yang dikenal oleh masyarakat sekitar wilayah tersebut dengan tradisi bancakan.
Tradisi makan bersama atau ngariung, semula kerap hanya dilakukan pada saat peristiwa khusus, meski seiring dengan perkembangan zaman kegiatan bancakan menjadi sebuah aktivitas yang disukai masyarakat, karena menjadi sebuah tradisi luhur.
Nyimas Riza, salah satu warga Desa Kelawi yang menjadi juru masak bersama kaum ibu di Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, menyebut semula tradisi bancakan hanya dilakukan di dalam rumah dengan menyiapkan beragam hidangan khas berupa nasi, lauk pauk berupa ayam goreng, ikan bakar serta berbagai lalapan lengkap dengan sambal pekhos (sambal curah) terbuat dari cabai merah dan tomat yang kecut ditambah jeruk nipis.
“Semua hidangan dalam bancakan tersebut umumnya dipersiapkan oleh kaum wanita, terutama dalam penyiapan bumbu, memasak nasi. Sementara kaum laki-laki membakar ikan dan mencari daun pisang sebagai alas saat makan bersama,” terang Nyimas Riza, warga Dusun Serungku, menerangkan proses penyiapan menu bancakan bagi masyarakat di Desa Kelawi di lokasi wisata pantai Minang Khua Bahari, Minggu (24/9/2017).
Nyimas Riza menyebut, dengan adanya acara yang membutuhkan tenaga kerja banyak serta ungkapan terima kasih dan syukur bisa diwujudkan dengan mengajak makan bersama yang secara tradisional masih diterapkan sistem makan dalam satu wadah. Meski pergeseran penggunaan nasi kotak lengkap dengan lauk pauk, namun tradisi bancakan dengan penggunaan daun pisang sebagai alas masih dipertahankan masyarakat pesisir Lampung Selatan.
Kelengkapan bancakan, umumnya sudah disiapkan oleh kaum wanita untuk dimakan bersama di satu tempat yang berupa tepi sungai, tepi pantai dengan alas daun pisang dihamparkan di atas rumput selanjutnya nasi hangat dihamparkan dalam porsi tertentu. Nasi tersebut akan dilengkapi dengan lauk ikan bakar, sambal terasi serta sambal pekhos yang disiapkan secara khusus dalam mangkuk kecil.
Kepala Dusun Minang Khua, Supadi, menerangkan sebagai sebuah acara makan bersama filosofi luhur aktivitas masyarakat pesisir tersebut diakuinya masih bisa menjadi faktor mempererat rasa kebersamaan antar warga tanpa memandang status. Setelah bekerja keras bersama melibatkan kaum laki-laki dan kaum wanita memasak, maka semua hidangan dinikmati bersama tua, muda tanpa ada pembedaan.
“Menggunakan wadah makan bersama dengan sendok atau tangan, namun dinikmati dengan penuh rasa syukur menunjukkan sebuah sikap guyup dan rukun dan porsi yang sama,” beber Supadi.
Ketika semua orang makan dengan nasi dilengkapi lauk dan sambal terasi, sambal pekhos dan lalapan daun kemangi, petai bersama dalam wadah semua orang duduk bersila mengelilingi daun pisang. Kebersamaan tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan anak orang kaya, miskin dan usia, bahkan tidak ada rasa malu, meski makan beralaskan daun pisang.
Supadi menyebut, meski bancakan awalnya sesuatu yang sakral, namun seiring pergeseran waktu bancakan yang dilengkapi dengan makanan makanan pelengkap sesuai tradisi mulai bergeser menunya menyesuaikan selera, meski acara dengan diawali doa serta beralaskan daun pisang masih dipertahankan.
“Nilai gotong royong dan kerukunan tentunya kental terasa, bahkan dengan adanya bancakan ada sebuah kerinduan bagi masyarakat untuk berkumpul dan melunturkan sikap egoisme”, beber Supadi.
Menu bancakan yang kerap hanya sederhana, di antaranya tempe goreng, ikan asin, sambal terasi serta sayur asem dipadukan dengan nasi hangat kerap masih menjadi aktivitas yang dilakukan masyarakat pesisir pantai dari wilayah Bakauheni hingga Rajabasa. Bancakan yang cukup banyak dilakukan kerap marak saat libur panjang dan tahun baru serta acara istimewa di tepi pantai sembari menikmati suasana pantai.
