LAMPUNG — Puluhan tahun hanya memiliki jalan setapak tanah dan berbatu untuk menuju ke lokasi perkebunan dan pertanian, membuat warga Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, kesulitan mengangkut hasil pertanian.
Samsul Maarif, Kepala Dusun Kayu Tabu, menyebut, warga masih memanfaatkan jasa ojek untuk mengangkut hasil pertanian berupa jagung, pisang, kelapa, buah alpukat serta tanaman lain untuk dikumpulkan di satu lokasi, akibat akses jalan yang belum memadai, sehingga petani harus mengeluarkan biaya ekstra pada masa panen.
Menurut Samsul, bersama warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan pekebun, atas kesepakatan bersama, diputuskan pembangunan akses jalan usaha tani bersumber dari swadaya murni dengan cara iuran dan dilakukan pula secara swadaya oleh warga.
Samsul mengatakan, proses musyawarah menentukan titik prioritas yang akan diperbaiki, sudah disurvei berdasarkan kebutuhan masyarakat petani di wilayah tersebut. Harapan warga, semua akses jalan pertanian di wilayah tersebut bisa diperbaiki dengan sistem cor beton, meski hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, agar memudahkan distribusi hasil pertanian dan bisa dinikmati semua petani di wilayah tersebut.
“Beberapa prioritas jalan usaha tani yang kami perbaiki dengan sistem rigid beton swadaya, di antaranya pada tanjakan dan turunan yang kerap sukar dilalui, terutama saat musim hujan,” terang Samsul, Senin (4/9/2017).
Teknis swadaya murni masyarakat untuk pembangunan akses jalan usaha tani tersebut, lanjut Samul, dilakukan dengan iuran wajib sebesar Rp100 ribu per kepala keluarga pemilik kebun atau lahan pertanian, yang memanfaatkan akses jalan usaha tani. Beberapa warga yang tak memiliki lahan bahkan rela memberi iuran dengan besaran Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, karena akses jalan tersebut juga bisa dipakai untuk akses ke pantai mencari ikan.
Sulitnya akses jalan untuk membawa material pembangunan jalan usaha tani berupa pasir, batu split dan semen, diatasi dengan mengangkutnya dengan karung. Pengangkutan air untuk proses pengadukan semen dan material lain juga terpaksa mempergunakan jerigen air, akibat kontur jalan usaha tani di wilayah tersebut berada di kawasan perbukitan yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan sulit memperoleh air.
Pembangunan jalan usaha tani pada 2017 tersebut, kata Samsul, merupakan proses lanjutan pembangunan jalan sebelumnya sepanjang 600 meter yang terus akan dibuka akses lain hingga semua jalan yang memudahkan pengangkutan hasil pertanian, sekaligus bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Pengerjaan yang dilakukan swadaya oleh masyarakat tersebut, bahkan mengerahkan sumber daya warga sekitar yang bekerja tanpa dibayar.
Selama proses pengeringan akses jalan, warga yang hendak melakukan aktivitas sementara waktu menggunakan jalur darurat di samping jalan yang tengah dibangun untuk proses pengeringan yang sempurna pada jalan usaha tani tersebut. Kesibukan para warga yang juga memiliki tanggungan pekerjaan di ladang dan lokasi pertanian membuat proses pengerjaan dilakukan secara bertahap, pada setiap awal pekan dan akhir pekan sesuai kesepakatan warga.
Samsul mengungkapkan, sebanyak empat titik dikerjakan secara bertahap dengan proses perataan tanah, penyusunan batuan onderlagh sebagai dasar serta pada tahap akhir dilakukan pembuatan jalan menggunakan sistem cor semen yang dikerjakan secara bergotong-royong.
Menurutnya, total panjang jalan usaha tani sepanjang 600 meter tersebut dibuat dengan ketebalan 8-10 Centimeter, dengan variasi lebar di antaranya mulai 60 Centimeter, 80 Centimeter dan menyesuaikan kondisi jalan setapak tersebut ada beberapa bagian yang dibuat selebar 100 Centimeter.
Aceng, salah satu warga pemilik kebun jagung dan pisang menyebut, iuran wajib setiap panen yang digunakan membeli material pembangunan jalan usaha tani tersebut diakuinya cukup menguntungkan. Pembuatan akses jalan yang baik tersebut merupakan investasi bagi petani, agar bisa melakukan distribusi hasil pertanian lebih mudah.
Saat ini, diakui Aceng, jalan usaha tani sepanjang 600 meter sudah dibangun. Namun, pada tahap berikutnya akan dilakukan penambahan akses jalan secara bertahap murni swadaya masyarakat, melalui sistem bayar saat panen, sehingga akses jalan pertanian di wilayah Desa Kayu Tabu bisa lebih baik dari sebelumnya.