Tingginya Kebutuhan Palet dan Peti Pengaruhi Budidaya Kayu di Lampung
LAMPUNG – Permintaan bahan baku kayu yang meningkat bersumber dari perkebunan milik warga yang menanam jenis kayu sengon, jati ambon, kayu merambung serta jenis kayu homogen (sejenis) dalam satu kali penanaman, terus terjadi untuk kebutuhan para pengusaha palet dan peti.
Menurut Ikhsan salah satu pemilik usaha jual beli kayu log di wilayah Lampung Selatan, dirinya membeli kayu log berbagai jenis dengan dominan untuk bahan palet dan peti. Meski sebagian bisa dimanfaatkan untuk pembuatan furnitur.
Pembelian kayu dari pengusaha palet untuk transportasi atau memindahkan barang dan peti untuk pengemasan produk barang yang membutuhkan palet dan peti sebagai kotak pengemasan saat akan dikirim, membuat permintaan akan kayu semakin meningkat sejak tahun 2011 hingga kini di wilayah Lampung. Sebagian kayu diakuinya diambil dari petani dengan sistem pembelian borongan serta kubikasi. Selanjutnya dibawa ke lokasi sawmill/penggergajian kayu dengan ukuran 100 cm, 260 cm, serta ukuran lain.
“Selain ditanam oleh masyarakat, hasil tanaman kayu yang dibudidayakan secara homogen tersebut juga ditanam oleh pemilik lahan dengan sistem sewa bekerja sama dengan pengusaha palet dan peti sistem bagi hasil,” beber Ikhsan, warga Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa saat ditemui Cendana News tengah menunggu kendaraan ekspedisi di tepi Jalan Lintas Sumatera untuk dibawa ke Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Sebagai pemasok ke perusahaan penggergajian kayu saat dikirim dalam bentuk log kayu dirinya mengungkapkan, dalam dua pekan sekali mengirim sebanyak 10 hingga 20 kubik log kayu ke Jakarta dan Tangerang sebagai bahan palet dan peti. Kayu hasil tebangan dari tanaman warga tersebut diakuinya merupakan kayu dengan umur 5-6 tahun dengan diameter rata-rata 50cm bahkan hingga 70cm dan masih bisa menjadi kayu olahan dengan proses penggergajian.
Kebutuhan akan kayu tersebut menjadi peluang bagi masyarakat pemilik lahan yang selama ini hanya dibiarkan terlantar tanpa tanaman. Salah satunya dilakukan oleh Darmaji, warga Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni yang menanam jenis kayu jati ambon dan sengon sebanyak 650 batang. Pola penanaman beda usia dan dengan jarak tanam yang beragam membuatnya bisa melakukan sistem penebangan pilih. Selanjutnya dilakukan proses peremajaan saat tanaman kayu siap panen ditebang.

Program peremajaan atau reboisasi pada lahan yang ditebangi untuk kebutuhan log kayu tersebut membuat wilayah yang sudah ditebangi tidak serta merta gundul karena ada tanaman pengganti. Alokasi lahan yang disiapkan diakuinya bisa dilakukan penanaman jenis jagung sebagai tanaman produktif sekaligus pisang pada usia sebelum lima tahun sembari menunggu pertumbuhan tanaman jati ambon miliknya.
Hasil budidaya tanaman sejenis berupa jabon dan sengon yang mulai banyak dilakukan masyarakat setidaknya memberi penghasilan puluhan juta setiap masa panen dengan jeda sekitar 5-6 tahun sekali sebagai sebuah investasi masa depan dan reboisasi.
“Kebutuhan ekonomi tentunya ada tapi kita tidak boleh mengesampingkan adanya kebutuhan hutan tanaman industri yang berguna juga bagi konservasi lingkungan. Jangan mau untung saja,” beber Darmaji.
Selain dijual untuk kebutuhan log kayu yang dikirim ke Jakarta dan Tangerang, sebagian pemilik kebun serta pemilik lahan yang disewakan untuk penanaman kayu sejenis juga memenuhi kebutuhan kayu pasar lokal. Kebutuhan kayu tersebut di antaranya dijual dalam bentuk gelondongan dan diolah di tempat penggergajian menjadi beberapa jenis kayu bahan kaos, kusen, dan papan.
Pantauan Cendana News pemanfaatan lahan untuk penanaman kayu sejenis mulai banyak dilakukan dengan pola tumpangsari untuk menanam jati ambon di wilayah Kecamatan Rajabasa, Penengahan dan kecamatan lain. Terutama lahan yang jauh dari permukiman penduduk. Selain menjadi kawasan hutan sejenis, hasil tanaman masyarakat atas pohon tersebut ikut memberi dampak positif bagi kelestarian lingkungan dengan adanya penanaman kembali pohon yang telah ditebang.
