Tak Sekedar Istri Polisi, Bhayangkari Juga Harus Miliki Kepekaan Tinggi

SOLO — Tugas negara tak hanya melekat pada seorang anggota Polri. Kesiapan mental serta keteguhan hati juga harus dimiliki seorang istri polisi (Bhayangkari).

Bagaimana tidak, belum juga “jenak” dengan lingkungan yang menjadi tempat tinggal, bhayangkari sudah harus siap jika sewaktu-waktu suaminya dipindah-tugaskan ke luar kota. Hal inilah yang dirasakan Tugiyani dan Anik Wury, dua anggota Bhayangkari Polres Karanganyar, Jawa Tengah.

Keduanya mengaku, selain disibukkan mengurus rumah tangga, bhayangkari juga memiliki tanggung jawab besar yang juga harus dipikulnya.

“Misalnya di masyarakat. Bhayangkari juga harus berkiprah untuk kepentingan orang banyak. Mulai dari masalah sosial, kesehatan, pendidikan, hingga sampai bina keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata Tugiyani kepada Cendana News, Senin (18/9/2017).

Istri Aiptu Porwanto, anggota Satuan Shabara Polres Karanganyar itu menjelaskan, tugas seorang polisi tak bisa lepas dari bhayangkari. Jika suaminya tugas pengamanan negara, hal serupa dilakukan bhayangkari, yakni turut ambil bagian dari pengamanan khususnya kaum perempuan.

“Saat di pasar pun, bhayangkari juga harus memiliki kepekaan sosial. Misalnya ada yang butuh bantuan, sebisa mungkin kita bantu. Walaupun hanya membawakan barang dagangan milik warga,” ucap perempuan 47 tahun itu.

Warga Perum Lalung Permai, Karanganyar itu bersependapat dengan slogan yang menjadi motto oleh Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak. Yakni, jika diniatkan dengan ibadah, maka memilih Polisi sebagai suatu profesi adalah jalan menuju surga.

“Demikian juga bhayangkari. Jika diniati ibadah, maka menjadi bhayangkari bisa menjadi jalan menuju surga,” ungkapnya yang juga diamini rekannya, Anik Wury.

Sosialisasi keselamatan lalulintas di Terminal Jongke, Karanganyar, Senin (18092017)/Foto: Harun Alrosid

Menurut Anik, apa yang menjadi Program Nasional Polri, turut menjadi tanggung jawab bhayangkari. Misalnya, mensukseskan program Promoter (Profesional, Modern dan Terpercaya). Bhayangkari dapat memberikan dorongan kepada suami agar dalam menjalankan tugasnya mengedepankan profesionalitas serta tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

“Termasuk bagaimana bhayangkari meneguhkan hati suami agar tidak melakukan hal-hal yang curang. Termasuk menjauhkan budaya korupsi, kolusi maupun nepotisme (KKN). Kalau kita tidak banyak menuntut, tentu suami akan bekerja dengan semakin nyaman,” tambah istri Aiptu Widada Jaka, anggota Satuan Intelkam Polres Karanganyar.

Selain Promoter, program 2017 menjadi tahun keselamatan juga tak luput dari peran bhayangkari. Warga Gagan RT 02, W 03, Desa Gantiwarno, Kecamatan Matesih, Karanganyar itu mengaku prihatin dengan keselamatan angkuta pelajar yang ada di daerahnya. Sebab, tak sedikit sopir maupun pelajar yang menghiraukan keselamatannya, dengan naik angkut dengan bergelantungan.

“Tahu sendiri kalau di Matesih. Keselamatan sepertinya tidak dihiraukan. Pelajar banyak yang naik bergantungan di pintu, bahkan ada di atas angkutan. Lihatnya saja sudah takut,” imbuh perempuan 41 tahun itu.

Melalui Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke 65 tahun ini, dirinya berharap mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara Indonesia. Yakni, menyiapkan segala sesuatunya untuk mendukung tugas suami menjalankan tugas negara. “Termasuk menyiapkan anak-anak seorang polisi menjadi generasi bangsa yang handal dan dapat meneruskan cita-cita para pendahulu kita,” pungkasnya.

Lihat juga...