Stok Menipis, Garam Penyumbang Inflasi Dua Kota di Sumbar

PADANG — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Sukardi menyebutkan pada bulan Agustus 2017 inflasi di Kota Bukittinggi sebesar 0,28 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 125,88 persen pada bulan Juli 2017 menjadi 126,23 pada bulan Agustus 2017. Sedangkan untuk Kota Padang, jika dilihat dari year on year (Agustus 2016-Agustus 2017), juga mengalami inflasi sebesar 2,95 persen.

Sukardi menjelaskan, komoditas penyumbang inflasi di Kota Bukittinggi yang terbesar itu dari cabai merah yakni sebesar 0,21 persen, sementara penyumbang komoditas urutan kedua yakni garam sebesar 0,04 persen. Komoditas cabai merah yang ikut menyumbang inflasi merupakan hal yang sudah sering terjadi, akan tetapi garam yang turut menyumbang inflasi merupakan hal yang baru terjadi, dan begitu juga untuk Kota Padang,

“Garam ini juga menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kota Padang yakni sebesar 0,02 persen, sementara di Kota Bukittinggi garam menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen. Jadi penyebab garam ikut menyumbang inflasi itu, karena pasokan garam yang di Bukittinggi tidak memadai kebutuhan garam di daerah tersebut, sehingga terjadi kenaikan harga,” jelasnya, Selasa (5/9/2017).

Ia memperkirakan, garam yang turut menjadi komoditas penyumbang inflasi, kemungkinan erat kaitan dengan naiknya harga garam di Indonesia, sehingga turut mempengaruhi kebutuhan garam di Kota Bukittinggi.

“Namun, kalau seandainya pasokan cukup, maka harga kemungkinan bisa distabilkan, sehingga tidak ikut menyebabkan terjadinya inflasi. Contohnya di Kota Padang, pasokan garam dinilai cukup, sehingga kondisi kebutuhan garam pun masih terlihat kondusif,” kata Sukardi.

Sementara itu, salah satu distributor garam di Padang, Lukmanul Hakim juga mengatakan, persedian garam yang berada di gudang hanya sekira di atas 100 ton. Jumlah stok garam itu dinilai hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama satu pekan.

Ia menyebutkan, sebelum adanya kelangkaan garam di Indonesia, biasanya pihaknya bisa menyimpan stok garam hingga mencapai 1.000 hingga 9.000 ton. Semenjak hal itu, pihaknya tidak lagi bisa menstok garam dengan jumlah yang besar.

“Kondisi seperti ini membuat kondisi stok garam menjadi menipis. Akan tetapi mau dibuat apa lagi, hal yang demikian akibat kelangkaan garam di Indonesia yang berdampak ke daerah,” tegasnya.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Ketua Tim Koordinasi/Ahli Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar Endwi Dwi Tjahyono menjelaskan, tekanan inflasi ke depan diprakirakan cukup rendah. Sumber tekanan inflasi diprakirakan masih berasal dari kelompok bahan pangan bergejolak khususnya cabai merah seiring dengan terbatasnya hasil panen dari sentra produksi disertai risiko gangguan cuaca.

“Jadi dari prakiraan cuaca BMKG menunjukkan curah hujan pada September 2017 cenderung tinggi. Prakiraan cuaca tersebut akan menimbulkan risiko khususnya pada komoditas pangan yaitu terganggunya proses penjemuran gabah sehingga berpotensi terganggunya pasokan beras, terganggunya panen cabai merah akibat kebusukan dan hama serta terganggunya kegiatan nelayan dalam menangkap ikan di laut,” ucap Endi.

Lihat juga...