MATARAM – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan normalisasi Danau Lebo, di Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat (NTB), Widada, mengatakan, normalisasi perlu dilakukan agar sedimentasi dan pertumbuhan gulma yang menutupi permukaan danau tidak semakin parah.
“Jadi, Kementerian LHK melalui BKSDA NTB melakukan normalisasi dari sisi konservasinya, kemudian Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara melakukan pemulihan dan pembenahan dari sisi fisik danau,” katanya, di Mataram, Kamis (7/9/2017).
Menurut dia, dengan normalisasi Danau Lebo, maka akan mengembalikan fungsi asli dari kawasan konservasi tersebut sebagai daerah penyerap air, untuk irigasi, sumber ikan dan wisata alam.
Pengembalian fungsi Danau Lebo juga diharapkan bisa memberikan efek ekonomi bagi warga sekitarnya, baik dari air untuk pertanian, hasil perikanan serta berbagai efek ekonomi lain yang muncul dari aktivitas wisata.
“Kami juga akan upayakan agar gulma berupa eceng gondok yang menutupi permukaan danau bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pupuk dan kerajinan tangan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Syaifuddin, mengatakan Kementerian PUPR mengalokasikan anggaran sebesar Rp25 miliar pada 2017 untuk proyek normalisasi danau. Dana tersebut dialokasikan melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara.
Salah satu kegiatan normalisasi yang dilaksanakan adalah membangun tanggul keliling danau yang berfungsi sebagai sabuk pengaman yang bisa mencegah penyusutan luas areal genangan akibat sedimentasi.
Sementara Kementerian LHK, kata dia, akan melakukan normalisasi danau dari sisi konservasi dan memberikan pendampingan kepada masyarakat di sekitarnya, agar mereka ikut memiliki dan menjaga kelestarian alam. “Adanya komitmen dua kementerian itu sebagai buah dari perjuangan bersama melobi pemerintah pusat,” ucap Fud beberapa waktu lalu.
Data BKSDA NTB, Danau Lebo terbentuk dari struktur perairan yang bercampur endapan limbah tumbuhan air, seperti enceng gondok, teratai serta jenis tanaman air lainnya. Disamping itu, danau tersebut juga terbentuk akibat pengikisan permukaan tanah yang terbawa hanyut oleh beberapa anak sungai sehingga membetuk muara.
Selain ular piton, beberapa jenis ikan, seperti ikan nila, carper, mujair, bawal, gurami, lele, ikan gabus juga hidup di danau tersebut. Juga, kura-kura rawa yang diyakini langka, juga hidup dalam ekosistem flora dan fauna sekitar.
Saat ini, pemanfaatan tata kelola Danau Lebo dikendalikan secara aktif agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan. Dari 840 hektare luas danau dan rawa tersebut, 70 persen diantaranya kawasan perairan. Baik kawasan yang ditetapkan sebagai zona konservasi, budi daya, dan area tangkap.
Kawasan danau Lebo sejauh ini dijadikan sebagai pusat penelitian ekologi perairan oleh berbagai universitas regional maupun nasional. (Ant)