SDIT di Solo Galang Dana untuk Rohingya
SOLO — Aksi kepedulian krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar, kian massif dilakukan di Indonesia. Tak hanya aksi unjukrasa, aksi penggalangan dana juga dilakukan di berbagai instansi atau lembaga.
Seperti yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Islam terpadu (SDIT) Nur Hidayah, Solo. Sekolah ini menggelar aksi penggalangan dana serta salat ghoib bagi korban kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, Kamis (7/9/2017).
“Ini adalah aksi kami untuk saudara kami yang ada di Rohingya. Kekerasan yang terjadi di sana menjadi duka bagi kami. Karena banyak anak-anak serta perempuan yang menjadi korban,” ujar Kepala Sekolah SDIT Nur Hidayah, Waskito, di sela kegiatan.
Dengan menggunakan sebuah panggung mini berukuran 2 x 3 meter di depan backdrop bertuliskan ‘From SDIT Nur Hidayah for Our Brother Rohingya’, aksi ratusan siswa SD di Solo ini diawali dengan salat ghoib. Kemudian dilanjut doa bersama serta penggalangan dana yang dilakukan pihak sekolah.
“Setidaknya ada 954 siswa-siswi kelas 1-6 dan ditambah guru karyawan SDIT Nur Hidayah yang mengikuti Aksi Peduli Rohingya ini. Hasilnya pun juga alhamdulillah lumayan,” lanjut Waskito.
Menurutnya, total dana yang terhimpun mencapai Rp45.600.000, dan akan disalurkan kepada pengungsi Rohingya melalui Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. “Semoga dana yang terkumpul ini dapat meringankan beban penderitaan etnis Rohingya dan segera terselamatkan dari krisis kemanusiaan yang melanda mereka,” imbuhnya.
Waka Humas SDIT Nur Hidayah, Rahmat Hariyadi, menambahkan, tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut juga untuk memupuk rasa kepedulian para siswa. Sekaligus menanamkan rasa empati kepada saudaranya yang sedang menderita, karena kekerasan militer. “Tentu kegiatan ini untuk mengedukasi para siswa, bagaimana tata cara salat ghoib serta mendoakan saudara-saudara muslim yang terdzalimi,” tandasnya.
Dalam aksi ini, mereka mengutuk keras tindakan tidak manusiawi pemerintah dan militer Myanmar terhadap umat muslim Rohingya. Mereka juga meminta kepada PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang khusus menangani anak, serta UNICEF, untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Rohingya.
“Kita dengan umat muslim lainnya ibarat satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit, terasa sakit pula seluruh tubuhnya. Terlebih di Rohingya tidak hanya terkait isu agama, namun sudah tragedi kemanusiaan,” tutupnya.