Mahasiswa UB Ciptakan Alat Deteksi Cacar Teh

MALANG — Teh adalah salah satu komoditas unggulan yang kerap diekspor ke luar negeri. Bahkan Indonesia termasuk salah satu negara pengekspor teh terbesar di dunia. Namun, selain karena keterbatasan lahan, penyakit cacar pada tanaman teh (Blister Blight) menjadi salah satu faktor menurunnya produksi teh di Indonesia.

Fahrizal Hari Utama. -Foto: Agus Nurchaliq

Melihat fakta tersebut, lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Ika Lestiana Sari, Mohammad Shiddiq Pratomo, Rynaldi Juliansyah, Fahrizal Hari Utama, Miftahul Jannah, di bawah arahan dosen pembimbing Luqman Qurata Aini, S.P., M.Si., Ph.D., mencoba menghadirkan sebuah alat BB Detector yang berfungsi untuk mendeteksi penyakit cacar pada daun teh.

Tehnical Engineering, Fahrizal Hari Utama, menjelaskan, cacar daun teh adalah penyakit yang menyerang daun teh, terutama pada  tiga pucuk daun utama. Bentuk penyakit tersebut hampir sama seperti cacar pada manusia.

“Cacar daun teh termasuk penyakit yang mengganggu dan sangat cepat menyebar ke daun teh lainnya, terutama di musim penghujan. Jika sudah parah akan membentuk bulatan seperti cacar pada manusia, dan bila terkena matahari, daun akan menjadi gosong dan berlubang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fahri menyampaikan, BB Detector terdiri dari beberapa peralatan elektronik, di antaranya, dua buah sensor, yakni sensor kelembaban dan suhu serta sensor kamera. Untuk prosesing data, mereka menggunakan mini PC yang memakai operasi sistem Linux.

Menurutnya, prinsip kerjanya yaitu BB Detector akan mengambil citra gambar dari kamera. Setelah citra gambar tersebut diambil, gambar tersebut akan difilter menggunakan dua buah filter warna, yakni filter warna kuning dan hijau.

“Untuk penyakitnya sendiri akan terdeteksi bila ada warna kuning dikelilingi warna hijau itu adalah indikator pertama. Dan bentuknya itu biasanya bulat,” terangnya.

Cara pengambilan datanya dilakukan dengan memegang BB Detector di atas permukaan tanaman teh seperti proses men-scan sambil berjalan, untuk mengambil samperl, bukan keseluruhan. “Nanti hasil akhirnya kalau di suatu daun teh terdapat penyakit cacar, maka di layar akan ditampilkan lingkaran berwarna merah yang menandakan itu adalah penyakit,” ungkapnya.

Menurutnya pula, tidak sulit dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk membuat BB Detector, karena semua peralatan elektronik yang digunakan terbilang cukup murah dan mudah untuk didapatkan.

“Mungkin kalau dibuat lengkap, alat ini hanya membutuhkan biaya 2 juta rupiah,” sebutnya.

Sesuai dengan namanya, alat ini hanya bisa untuk mendeteksi ada tidaknya penyakit cacar pada tanaman teh, bukan untuk menghilangkan penyakit tersebut. “Jadi, paling tidak dengan BB Detector, pengelola atau petani teh bisa lebih dini mengetahui adanya serangan penyakit cacar air, sehingga bisa lebih cepat untuk dikendalikan. BB Detector sudah pernah diuji-cobakan di kebun teh Wonosari, Malang”, pungkasnya.

Lihat juga...