KUPANG – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tini Tadeus mengatakan, NTT termasuk wilayah yang rawan terjadinya bencana.
“Karena itu diperlukan rencana penanggulangan bencana (RPB) agar penanganannya lebih fokus dan terarah, termasuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi lebih dini,” kata Tini Tadeus di Kupang, Selasa, pada pembukaan lokakarya Review Draft I Dokumen Rencana penanggulangan Bencana Daerah NTT untuk periode 2018-2023.
Dia mengatakan NTT termasuk wilayah yang rawan bencana. Ada risiko-risiko bencana yang biasanya dialami di NTT sehingga diperlukan rencana penanggulangannya.
Lokakarya ini menampilkan tiga nara sumber yakni Kepala Pelaksana BPBD NTT, Tini Thadeus, Komisaris Harian Pagi Pos Kupang, Damyan Godho dan Sekretaris Lemlit Undana, Prof. Michael Riwu Kaho.
Tini Thadeus dengan materi kedudukan BPBD dalam perencanaan pembangunan daerah, Komisaris Harian Pagi Pos Kupang, Damyan Godho dengan materi rencana penanggulangan bencana (RPB) dan pembangunan masyarakat.
Sedangkan pemateri ketiga, Prof. Mikael Riwu Kaho dengan materi, kelayakan dokumen RPB sebagai dasar penyusunan strategi dan program lintas sektor serta lintas pemangku kepentingan.
Tini Tadeus menambahkan, bencana memang tidak bisa diprediksi, tetapi paling tidak ada langkah-langkah yang dilakukan, baik pemerintah dan masyarakat untuk meminimalisir terjadinya bencana.
“Menanam dan menjaga hutan di sekitar sumber mata air misalnya dapat meminimalisir terjadinya risiko kekeringan seperti yang terjadi setiap tahun,” katanya.
Berkaitan dengan itu, dia berharap, dalam lokakarya ini pihaknya bisa mendapat banyak saran dan masukan dari sejumlah stake holder atau elemen seperti sektor-sektor terkait, untuk kepentingan rencana penanggulangan bencana ke depan. (Ant)