Nelayan Cilacap Memasuki Puncak Masa Panen Ikan

CILACAP – “Nelayan di pesisir selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memasuki puncak masa panen ikan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) setempat, Sarjono.

Menurut Sarjono, puncak masa panen telah berlangsung sejak dua-tiga minggu lalu, berbagai jenis ikan bermunculan di perairan selatan Jateng.

Dengan demikian, kata dia, nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil dapat memperoleh ikan hasil tangkapan setelah mengalami masa paceklik yang panjang akibat tingginya curah hujan yang terjadi sepanjang tahun 2016 hingga awal 2017.

Kendati demikian, dia mengakui, jika pada puncak masa panen sering terjadi gelombang tinggi sebagai dampak dari musim angin timur.

“Bagi nelayan yang menggunakan perahu berukuran besar tidak terkendala oleh gelombang tinggi sehingga masih bisa melaut jarak jauh,” katanya.

Lebih lanjut, Sarjono mengatakan, harga ikan pada puncak masa panen kali ini relatif stabil jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun beberapa jenis ikan yang biasa dikonsumsi masyarakat lokal sempat anjlok.

Dia mencontohkan harga beberapa jenis ikan yang relatif stabil di antaranya cakalang sekitar Rp15.000/kilogram, baby tuna (anakan tuna) sekitar Rp17.000/kg, dan layur berkisar Rp30.000-Rp35.000/kg.

Menurut dia, ikan-ikan tersebut lebih banyak untuk keperluan ekspor sehingga mengalami penurunan harga secara signifikan meskipun sedang banyak pasokan.

“Kemarin saat Idul Adha, banyak karyawan perusahaan pengolahan atau eksportir ikan yang libur sehingga harga ikan kualitas ekspor itu sedikit mengalami penurunan rata-rata sekitar Rp1.000, tapi sekarang sudah normal lagi,” ujarnya.

Sementara untuk jenis ikan untuk konsumsi masyarakat lokal yang harganya sempat anjlok, antara lain cumi-cumi turun dari Rp20.000/kg menjadi Rp15.000-Rp16.000/kg dan cakalang lokal berkisar Rp12.000-Rp13.000/kg.

Menurut dia, anjloknya harga beberapa jenis ikan konsumsi lokal itu merupakan dampak Hari Raya Idul Adha.

“Saat Idul Adha, masyarakat banyak mengonsumsi daging kurban sehingga berdampak pada penurunan konsumsi ikan laut. Khusus untuk cakalang lokal memang belum banyak yang mengonsumsi,” katanya.

Ia mengharapkan kondisi cuaca tetap bersahabat hingga berakhirnya masa panen yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga bulan Desember atau saat wilayah perairan selatan Jateng memasuki musim angin barat. (Ant)