KUD dan Tabur Puja Jawaban Atasi Rentenir di Desa Madura
CILACAP — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Keberadaan Dana Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) dari Yayasan Dana Mandiri Sejahtera (Damandiri) di desa Madura, Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah, menjadi harapan baru. Selain berguna untuk mengembangkan dan memajukan usaha, keberadaannya juga menjadi solusi wargadari jeratan para rentenir.
Di bawah pengelolaan KUD Mandiri Lestari Sejahtera, program Tabur Puja memberikan pinjaman modal usaha kepada warga, melalui unit Tabur Puja dan Pusat Pemberdayaan Masyarakat (Posdaya). Dengan model pinjaman tanpa agunan dan bunga ringan, setiap warga yang menjadi anggota dapat meminjam sebesar Rp2juta per orang.
Salah seorang warga dusun Margasari, desa Madura, Wanareja, Cilacap yang sehari-hari berkerja sebagai petani, Budi Nata, tak menampik sulitnya mencari modal usaha untuk mengembangkan usahanya. Selama ini ia mengaku harus meminjam modal dari bank, untuk bisa membeli kebutuhan usaha pertaniannya baik itu membeli bibit, pupuk hingga pestisida. Ia bahkan sempat terjerat rentenir yang mengenakan bunga sangat tinggi.
“Selama ini warga di sini hanya mengandalkan pinjamam dari bank untuk menjalankan usaha. Sebagian bahkan ada juga yang pinjam ke rentenir, meski bunganya sangat tinggi. Karena memang tidak ada koperasi di desa. Dengan adanya bantuan dana (dari Yayasan Damandiri) dan koperasi baru ini semoga bisa membantu,” katanya.
Budi sendiri sudah sejak beberapa tahun terakhir menjadi petani pepaya california yang merupakan salah satu komoditas buah unggulan desa Madura. Memanfaatkan lahan seluas 150 petak atau 1.500 meter persegi, ia juga mencoba menanam jeruk lemon dengan sistem tumpang-sari dengan pepaya.
“Sekali panen, bisa mengahasilkan sekitar tujuh kwintal pepaya. Sementara harganya sekitar Rp3.000 per kilo. Jadi sekali panen bisa menghasilkan Rp2 juta. Padahal satu bulan bisa panen empat kali, Sehingga tiap bulan bisa menghasilkan sekitar Rp6 juta. Sementara kalau untuk jeruk, belum sempat panen karena masih mencoba,” katanya.

Meski mendapat pemasukan lumayan, Budi mengaku masih harus mengeluarkan modal yang tak sedikit. Baik itu untuk biaya membeli pupuk, obat pengusir hama atau pestisida, hingga membiayai kebutuhan penyiraman yang menggunakan sumur bor dan disel.
“Untuk pupuk memang hanya beberapa bulan sekali. Tapi untuk membeli pestisida harus dilakukan setiap seminggu sekali. Sementara untuk penyiraman, saat musim kemarau seperti sekarang ini harus dilakukan hampir setiap hari,” tutupnya.