Sumur Tiban, Harapan Terakhir Masyarakat Penengahan Kala Kemarau

LAMPUNG — Kekeringan yang mulai melanda wilayah Lampung tidak memiliki pengaruh bagi masyarakat Dusun Sideder Desa Banjarmasin yang berbatasan langsung dengan Dusun Karanganyar Desa Klaten, Penengahan Lampung Selatan dengan pemisah alami sebuah sungai dikenal dengan nama sungai Tuba Mati.

Bagi Hendrik dan masyarakat Dusun Sideder yang memanfaatkan sungai Tuba Mati yang debitnya mulai mengering, harapan terakhir selama musim kemarau adalah sebuah mata air yang dikenal dengan nama “sumur tiban” oleh warga yang bersuku Jawa dan disebut dengan “sumur kuasa” oleh masyarakat bersuku Lampung di wilayah tersebut.

“Saat kemarau puluhan orang datang membawa galon air ke sumur tiban untuk digunakan sebagai kebutuhan air bersih, karena air sungai sudah mengering dan sumur debitnya mulai berkurang,” tegas Hendrik ketika datang ke sumur tiban untuk merasakan sensasi kesegaran air di lokasi tersebut saat ditemui Cendana News, Kamis (21/9/2017).

Sumur Tiban berada di sebuah cekungan, awalnya datar dan dibuat sebuah bendungan setinggi hampir tiga meter berpondasi batu untuk dialirkan ke areal lahan pertanian sawah, perkebunan sawit dan pertanian hortikultura.

Petani pemilik lahan sawah di aliran siring dari sumur tiban, Sumarji mengungkapkan, keberadaan sumur selain menjadi sebuah fenomena karena dalam kondisi kemarau berkepanjangan hingga enam bulan air sumur masih mengalir jernih.

Dirinya dan petani lain bahkan sepakat meminta izin kepada pemilik tanah untuk memanfaatkan air sumur tiban yang terbuang agar bisa dimanfaatkan sebagai sumber air pertanian sawah.

“Kami buat bendungan agar air tertampung sekaligus membuat serumbung agar air dari sumur tiban tetap jernih dan mengalir di bendungan,” beber Sumarji.

Kholijah warga Desa Banjarmasin pemilik sumur tiban yang terus mengalirkan air untuk kebutuhan rumah tangga dan pengairan lahan pertanian [Foto: Henk Widi]
Pemilik lahan tanah, Kholijah (75) dan suaminya Denan (95) warga Dusun Sideder Desa Banjarmasin saat ditemui Cendana News mengakui, awalnya lahan sebanyak dua bidang seluas satu hektar tersebut diperolehnya dari seseorang warga Desa Tetaan yang memiliki utang kepadanya. Utang akibat sang pemilik tanah membutuhkan biaya untuk menikahkan anaknya tersebut berwujud satu ekor kerbau pada sekitar tahun 1970-an dan hingga kini sumur tiban menjadi miliknya berikut tanah di sekitarnya.

Sumur tiban yang bermakna sumur yang tiba tiba muncul tanpa digali dan juga sumur kuasa karena banyak yang menjadikan air sumur sebagai sumber kesembuhan terbukti masih dipercayai masyarakat memiliki khasiat.

Selain memiliki fungsi utama sebagai sumber air bersih, sumber pengairan lahan pertanian sesuai kearifan dan kepercayaan masyarakat yang sudah bernazar di sumur kuasa dalam bahasa Lampung atau sumur tiban membuat sumur tersebut tetap dilestarikan.

Kholijah menyebut keberadaan mata air sumur tiban di lahannya yang juga menumbuhkan kelapa puan atau kelapa kopyor tersebut menjadi anugerah bagi keluarganya. Selain memberi sumber kehidupan dengan air yang mengalir sepanjang waktu dirinya bahkan menyebut sudah ada tiga orang berikut perusahaan air minum yang menawar lokasi tersebut milyaran rupiah.

“Sejarahnya dan juga pesan dalam mimpi saya air tersebut sudah ada ratusan tahun silam saat kemarau melanda bumi ini banyak orang ke sini sehingga tidak saya jual dan menjadi warisan anak cucu,” sebutnya.

Kini ibu dari sebanyak 10 anak dan beberapa cucu tersebut mengaku kemarau sudah melanda dan kebutuhan air warga dari berbagai wilayah di Penengahan yang mengambil dari sumur tiban dipersilahkan untuk dimanfaatkan bahkan untuk kebutuhan lahan pertanian.

Ia menyebut air sekaligus menjadi sedekah dan amal dari air yang diberikan cuma-cuma menjadi bekalnya kelak dalam perjalanan ke alam keabadian sehingga dirinya tak berniat mengkomersilkan sumber air bersih yang dikenal dengan sumur tiban tersebut.

Lihat juga...