KUPANG – Ribuan warga muslim Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Keluarga Jawa di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur menghimpun 78 ekor hewan kurban terdiri 44 ekor sapi dan 34 ekor kambing kurban untuk dipotong pada Idul Adha, 1 September 2017.
Penyuluh Agama Islam pada kantor Kementerian agama Kota Kupang, di Kupang, Jumat mengatakan, setiap tahun keluarga ini yang proaktif dalam mengumpulkan hewan kurban untuk perayaan Idul Adha di Kota Kupang dan sekitarnya.
Selanjutnya diikuti oleh Yayasan Ibadurrahman Kupang dan Nurul Hidayah Kelapa Lima Kota Kupang yang masing-masing 71 dan 65 hewan kurban untuk perayaan Idul Kurban 1438 Hijriah.
Demikian pula kata Haji Hudaya Nur, sumbangan hewan kurban dari keluarga Saiyo Sa Kota Kupang yang menyumbangkan 25 ekor dan 13 ekor kambing untuk dipersembahkan dalam hari raya kurban 2017.
Menyusul keluarga dalam Masjid Darul Hijrah BTN Kolhua, Masjid Baiturahman Perumnas, dan Masjid Mujahiddin Penfui, masing-masing menyumbang 15 ekor sapi dan 47, 52, dan 39 kambing.
Ia mengatakan, pengadaan dan pengumpulan hewan kurban (sapi dan kambing) dilakukan warga Muslim sebagai wujud pengamalan ajaran agama Islam dalam berbagi dengan sesama di hari raya Idul Adha 1438 H.
“Ibadah kurban perlu dikembangkan sebagai budaya sehari-hari untuk mewujudkan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” katanya.
Menurut dia, ibadah kurban memiliki kandungan nilai sosial kemasyarakatan yang tinggi. “Kurban sarat dengan muatan-muatan sosial, yang memiliki peran besar dalam mengikis jurang antara yang kaya dengan yang miskin,” katanya.
Ibadah kurban, katanya, merupakan Ibadah yang pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail sehingga perlu dijadikan sebagai budaya masyarakat Indonesia, tidak terikat oleh waktu atau momen apa pun, termasuk Idul Adha.
“Kurban biasanya dilaksanakan pada Idul Adha yang jatuh setiap 10 Dzulhijjah dan tiga hari setelahnya atau pada hari-hari tasyrik,” katanya.
Kebiasaan berkurban dapat dilestarikan setiap hari, karena akan berdampak positif dalam upaya mengikis kesenjangan di tengah masyarakat.
Dia mengatakan, pemotongan hewan kurban akan dilakukan setelah shalat Id.
“Penyembelihan dilaksanakan dengan niat menyebut Asma Allah dan dilaksanakan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan saluran makanan, saluran pernafasan/tenggorokan dan dua pembuluh darah,” katanya. Penyembelihan dilakukan cukup satu kali dan cepat. Memastikan adanya aliran darah dan gerakan hewan sebagai tanda hidupnya hewan dan memastikan pula matinya hewan yang disebabkan oleh penyembelihan tersebut. (Ant)