Kadis Kesehatan Kupang: ISPA dan Diare Mudah Mewabah di Musim Kemarau

KUPANG — Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr Ari Wijana mengatakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare mudah menyerang masyarakat dan mewabah di daerah saat musim kemarau dengan intensitas angin yang terus kencang seperti saat ini.

“Karena itu warga diminta untuk terus menjaga pola hidup sehat dengan makan bergizi, mengkonsumsi air yang sudah direbus mendidih, istirahat cukup serta berolahraga teratur,” kata Ari di Kupang, Senin (18/9/2017).

Menurut dia, saat musim kemarau daya tahan tubuh cenderung menurun. Selain itu, udara kering, sumber air berkurang, banyak lalat dan debu membuat orang mudah terserang beberapa penyakit. “Antara lain infeksi saluran pernafasan atas (Ispa) dan diare,” katanya.

Dia menjelaskan udara yang panas akan membuat orang cenderung berkeringat. Selain itu, saat kemarau lingkungan cenderung tidak sehat, debu dan asap yang akan merangsang terjadinya iritasi saluran pernafasan atas dan berlanjut menjadi infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).

Keterbatasan air bersih membuat asupan air juga menurun. Jika minum dibatasi maka akan merangsang terjadinya iritasi saluran pernafasan atas. Selain itu udara yang panas membuat orang cenderung mengonsumsi air dingin atau es. Kondisi inipun akan merangsang iritasi yang terjadi pada saluran pernafasan atas dan menyebabkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari infeksi saluran nafas atas. Upaya pencegahan menghindari terpapar dengan udara langsung, tetap mempertahankan banyak minum dan tentu tidak minum air es sehingga saluran pernafasan atas tidak kering dan tidak teriritasi.

Selanjutnya, air bersih yang terbatas membuat lingkungan menjadi relatif lebih kotor dan masyarakat membatasi penggunaan air bersih.

Kondisi lingkungan yang kotor ini akan membuat lalat menjadi lebih banyak, sehingga membuat makanan dan minuman menjadi mudah tercemar. Apabila kondisi ini terjadi maka angka kejadian diare akan meningkat.

Penelitian-penelitian di masyarakat menunjukkan bahwa terbatasnya air bersih merupakan salah satu faktor utama penyebab meningkatnya kejadian diare. Oleh karena itu, kemungkinan peningkatan kasus diare harus diantisipasi terutama oleh Puskesmas khususnya pada wilayah-wilayah dimana masyarakatnya mengalami krisis air bersih.

Jika mengalami diare, maka yang harus dicegah adalah kekurangan cairan dan elektrolit. Kekurangan cairan dan elektrolit jika tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi yang lanjut seperti gangguan fungsi ginjal sampai menyebabkan kematian.

Cairan yang mengandung elektrolit seperti oralit sebaiknya segera harus diberikan dan disesuaikan dengan jumlah atau banyaknya feses cair yang dikeluarkan.

Jika kondisi dehidrasi cukup berat atau pasien tidak bisa mengonsumsi minuman akibat mual dan muntahnya, maka pasien perlu perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan infus cairan untuk mengatasi dehidrasi yang terjadi.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Oesapa, dr Trio Hardina, mengatakan trend penyakit di Puskesmas Oesapa yang tertinggi adalah ISPA yaitu sebanyak 326 pasien perempuan dan 324 pasien laki-laki.

Selain itu penyakit diare dengan jumlah 94 pasien perempuan dan 93 pasien laki-laki, ketiga faringitis (radang tenggorokan) dengan jumlah 125 pasien perempuan dan 83 pasien laki-laki.

Ada juga penyakit lainnya yang saat ini ditangani puskesmas tersebut, adalah, hipertensi dengan jumlah 236 pasien, dyspepsia (maag) dengan jumlah 128 pasien, chephalgia (nyeri kepala) dengan jumlah 78 pasien.

Masyarakat kata dia, harus menjaga pola hidup bersih dan sehat dengan minum air putih yang banyak, minimlah 2-4 gelas cairan dingin setiap jamnya. Hindari minuman berkafein atau beralkohol karena justru dapat mengakibatkan dehidrasi.

“Kebersihan lingkungan dan makanan yang akan dikonsumsi juga penting untuk diperhatikan. Juga harus berolahraga secara teratur,” katanya (Ant).

Lihat juga...