YOGYAKARTA — Musim kemarau ini, suplai air bersih dari Organisasi Pengelola Air (OPA) menjadi satu-satunya tumpuan warga di Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman. Kondosi geografis desa yang berada di perbukitan ini membuat suplai air bersih ke rumah-rumah warga hanya mengandalkan air dari OPA.
Sayangnya kondisi saluran OPA di Desa Gayamharjo, yang sudah tua banyak mengalami masalah. Sejumlah pompa air serta pipa jaringan yang menyalurkan air bersih ke rumah-rumah warga diketahui bocor. Minimnya dana yang dimiliki, hanya membuat pihak pengelola OPA hanya mampu memperbaiki sementara kerusakan tersebut.
Ketua Unit III, OPA, Gayamharjo, Sugio, memgaku rutin melakukan pemeriksaan dan pembetulan jaringan pipa air yang menyambung ke rumah-rumah warga. Hal itu dilakukan secara rutin, guna mengantisipasi dan mengatasi kebocoran jaringan.
“Sebetulnya memang kondisinya sudah layak diganti. Karena umurnya sudah sangat tua. Tapi karena kita tidak punya dana, maka hanya ditambal sementara saja,” katanya, Selasa (12/09/2017).
Menurut Sugio, kerusakan paling sering ditemui adalah kerusakan saluran jaringan air, di mana pipa-pipa besi mengalami keropos karena terlalu tua. Selain juga mesin pompa yang bocor karena sudah tidak asli buatan pabrik, melainkan dimodifikasi. Mereka pun hanya membiarkan sementara pompa tersebut karena jika harus beli sangat mahal sampai Rp150 juta.
“Ada 10 titik kebocoran. Yakni kerusakan di jaringan diatribusi. Di Jatisari 4 inci rusak 75 meter juga di Kalinonggo sepanjang 75 meter. Selain itu juga ada kebocoran di pompa. Kerugian satu hari satu malam bisa sampai 2-3 meter kubik air,” ujarnya.
OPA Gayamharjo sendiri berasal dari sumur bor di dusun Grogol, Sumberharjo yang berjarak 7 kilometer. Air sumber ini kemudian dipompa menggunakan sebanyak 4 pompa ke puncak bukit di Dusun Mintorogo, Gayamharjo. Dari lokasi terakhir inilai air kemudian disalurkan ke seluruh Desa Gayamharjo di 7 dusun.
“Dari sekitar 1500 KK (Kepala Keluarga) yang ada di Dusun Gayamharjo, sebanyak 450 KK telah memanfaatkan air OPA ini. Warga ditarik biaya Rp8 ribu per meter kubik. Rata-rata setiap hari ada sebanyak 70-80 meter kubik air yang dimanfaatkan warga,” tutupnya.
