Disukai Wisman, Kerajinan Bambu Lombok Diekspor Sampai Amerika

LOMBOK — Tempo dulu tanaman bambu bagi kebanyakan masyarakat belum banyak bisa dimanfaatkan. Pemanfaatan bambu paling banyak dibuat jadi tembok rumah atau penyangga genteng rumah, terutama rumah tradisional masyarakat pedesaan.

Selebihnya bambu sebatas dipakai untuk membuat pagar rumah, perkebunan dan kayu bakar. Padahal tanaman bambu, terutama bambu tutul dengan berbagai varian warna dimiliki bisa diolah menjadi aneka kerajinan bernilai ekonomi dalam berbagai bentuk.

Belakangan, seiring perkembangannya, bambu oleh banyak masyarakat telah disulap menjadi aneka kerajinan dengan berbagai varian seni bernilai ekonomi tinggi dan banyak diminati wisatawan, terutama wisatawan luar negeri, karena murni terbuat dari bahan alami.

“Meja dan kursi ukuran kecil, sedang hingga besar, termasuk jenis kerajinan paling diminati wisatawan mancanegara, dengan harga tinggi, karena selain dari bahan alami, juga bernilai seni,” ujar pemilik usaha Kerajinan Bambu Debu, H. Mathur, Desa Taman Sari, Kabupaten Lombok Barat, Selasa (12/9/2017).

Bahkan hasil kerajinan bambu milik Mathur telah diekspor sampai luar negeri, beberapa di antaranya Amerika Serikat, Jerman, Polandia, Thailand dan sejumlah negara lain tercatat pernah memesan kerajinan bambu dari usaha kerajinan milik Mathur.

Selain perorangan, kerajinan bambu dihasilkan juga banyak dipesan sejumlah perusahaan perhotelan di NTB, baik kursi meja, tempat lampu maupun hiasan lain yang dibuat dari anyaman bambu.

Sambil mengerutkan dahi, pria paruh baya kelahiran 1965 tersebut mengenang bagaimana dirinya bisa merasakan manisnya keuntungan didapatkan, di masa awal dirinya merintis usaha kerajinan bambu.

“Dulu sebelum banyak saingan seperti sekarang, dirinya pernah sampai kewalahan menerima pesanan dan pembelian hasil kerajinan bambu, keuntungan didapatkan juga cukup menjanjikan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, sekarang meski pesanan masih tetap ada, tapi tidak tentu, terkadang ada, terkadang tidak, karena jumlah pengerajin juga sudah banyak. Meski demikian hasil kerajinan bambu tetap laku dan banyak dicari wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

Usaha kerajinan bambu yang ditekuni Mathur sendiri, jenisnya beragam dan variatif, mulai dari korsi, meja, sofa, keranjang, tempat lampu, topi, tempat buah dan beberapa hasil kerajinan lain dengan berbagai model dan ukuran

Dengan harga yang juga variatif, mulai dari 150 ribu sampai 2.000.000 juta rupiah, tergantung jenis dan berapa lama waktu dibutuhkan untuk menyelesaikan hasil kerajinan diinginkan atau dipesan.

“Kerajinan bambu jenis sofa misalkan paling murah Rp800 ribu, sementara kursi sama meja satu pasang, harga mulai 600 sampai 2 juta rupiah, dengan lama pengerjaan antara dua sampai tiga hari,” katanya.

Kini pada usianya yang terus beranjak senja, dengan raut wajah yang sudah mulai menua, Mathur masih memiliki mimpi supaya usaha kerajinan bambu yang telah digeluti selama 20 tahun lebih, menghidupi prekonomian keluarganya tersebut bisa terus dilanjutkan anak-anaknya.

Rani, seorang penjual kerajinan bambu lain justru memilih  kerajinan bambu yang sedang tren saat ini seperti tempat lampu, buah, tempat burung dan keranjang yang banyak pesanan dari perhotelan maupun wisatawan secara perorangan.

Rani memilih membeli hasil kerajinan bambu dari masyarakat pengerajin untuk dijual daripada membuat sendiri. Menurut dia dengan mendatangkan bambu dan mempekerjakan orang, banyak memakan biaya.

“Kalau saya  kebanyakan menjual hasil kerajinan bambu mengambildari pengerajin Lombok Tengah. Saya tidak selalu memproduksi sendiri. Ada beberapa jenis kerajinan yang dibuat sendiri, salah satunya membuat pintu dari bambu,” tutupnya.

Produk usaha kerajinan bambu DEBU milik H. Mhatur, Desa Taman Sari, Kabupaten Lombok Barat/Foto: Turmuzi.
Lihat juga...