Ini Legenda Jenang Pasar Lempuyangan Kesukaan Pak Harto
YOGYAKARTA – Jenang atau bubur merupakan salah satu jenis kuliner khas nusantara yang terus eksis hingga kini. Meski semakin banyak varian baru yang diciptakan, bubur tradisional seperti jenang sumsum, jenang monte hingga jenang candil atau jenang biji salak ternyata masih memiliki tempat tersendiri.

Di Yogyakarta, terdapat salah satu penjual jenang tradisional yang cukup legendaris. Tepatnya di kawasan Pasar Lempuyangan, Yogyakarta. Adalah Sugesti atau akrab disapa Gesti (51), warga Kampung Tukangan RT 36 RW 06 Danurejan, Yogyakarta, penjual jenang tersebut.
Meneruskan usaha ibu mertuanya, yakni Mbah Romlah, yang mulai berjualan sejak 1955, ia menjual berbagai macam jenis jenang tradisional. Antara lain jenang sungsum, jenang candil atau jenang biji salak, hingga jenang monte atau jenang mutiara.
Mulai berjualan sejak pagi, dagangan Gesti yang merupakan generasi kedua selalu laris diborong pembeli. Bahkan sebelum pukul 10.00 WIB, dagangannya selalu habis tak bersisa. Pelanggannya pun tak hanya dari kalangan orang biasa. Sejumlah pejabat dan tokoh penting pun merupakan pelanggan setia Gesti.
Dari sekian banyak pelanggan itu, salah satunya adalah Presiden Kedua RI, Soeharto. Setiap datang ke Jogja, Pak Harto selalu meminta ajudannya untuk membeli jenang legendaris Pasar Lempuyangan ini. Termasuk juga Presiden Keempat RI, Megawati, hingga Sri Sultan Hamengkubuwono X.
“Kalau dulu Pak Harto beli selalu menyuruh ajudannya ke sini. Tapi waktu itu yang jualan masih ibu saya. Ibu saya juga tidak tahu kalau ternyata jenang yang dibeli itu untuk Pak Harto,” katanya, Sabtu (16/9/2017).
Gesti sendiri mengaku sampai saat ini masih mempertahankan resep peninggalan orangtuanya. Tak ada satupun yang diubah agar dapat menjaga kualitas rasa seperti aslinya. Baik itu dengan memasak memakai tungku kayu dan kuali, hingga memakai daun pisang untuk membungkus daun pisang.
“Semua resep jenang tradisional ini turun temurun dari keluarga suami saya yang asal Magelang. Karena sejak dulu banyak keluarga di sana berjualan jenang tradisional. Magelang memang pusatnya jenang seperti ini,” katanya.
Gesti mengaku biasa membuat sebanyak 4 kuali jenang setiap hari. Dari jumlah itu ia bisa menjual sekitar 200 lebih bungkus jenang. Selain menjual di pasar, ia juga menerima pesanan jenang untuk berbagai acara hajatan.
“Dulu saat Sri Sultan Hamengkubuwono X, mantu, hidangan jenang untuk para tamu juga pesan di sini,” katanya.
Gesti menjelaskan, jenang candil atau jenang biji salak, yang juga biasa disebut jenang grandul merupakan jenang yang terbuat dari tepung beras ketan dan gula jawa. Jenang ini memiliki warna kecoklatan yang khas dengan rasa manis. Pada jenang salak ini terdapat bulat-bulatan kecil dengan tekstur sedikit kenyal yang juga terbuat dari tepung ketan atau tepung beras. Bulatan inilah yang membuat jenang jenis ini diberi nama jenang biji salak, karena mirip seperti biji salak baik warna maupun ukurannya.
“Jenang biji salak ini yang paling digemari. Biasa disajikan dengan kuah santan dengan paduan rasa gurih,” katanya.
Sementara jenang sumsum merupakan jenang yang terbuat dari tepung beras. Terdapat dua jenis jenang sumsum, yakni jenang sumsum manis yang dimasak dengan tambahan gula jawa, serta jenang sumsum putih yang dimasak tanpa gula jawa.
“Kuah jenang sumsum putih ini biasanya memakai kuah gula jawa. Karena rasa jenang sungsum putih sudah gurih. Namun, untuk jenang sungsum manis bisa juga memakai kuah santan dicampur sedikit kuah gula jawa,” katanya.
Untuk jenang monte atau jenang mutiara, dibuat dari tepung kanji. Disebut jenang mutiara karena di dalamnya terdapat bulatan-bulatan kecil sebesar kerikil. Memiliki warna merah muda, jenang mutiara ini biasa disajikan dengan kuah santan yang berwarna putih.
“Jika ada pelanggaran ingin mencicipi semua rasa jenis jenang, biasanya saya sajikan dengan cara dicampur. Jenang campur ini disajikan dengan tambahan kuah santan,” katanya.
Rasa legit dan manis, ditambah gurihnya santan memang menjadi ciri khas jenang tradisional pasar Lempuyangan ini. Teksturnya yang lembut juga membuat semua orang mulai dari anak kecil hingga nenek-nenek bisa ikut menikmatinya.
“Sebenarnya selain empat jenis jenang tadi, saya juga menjual beberapa jenis jenang lainnya. Seperti jenang gempol, jenang kelapa muda, hingga jenang ketan hitam dan jenang ketela. Namun, saya hanya melayani pembuatan jenang jenis ini saat ada pesanan saja,” tutupnya.