Hasil Panen Melon Kulonprogo tak Maksimal

YOGYAKARTA – Memasuki musim panen, harga jual melon di tingkat petani di kawasan Kabupaten Kulonprogo terpantau stabil. Harga melon kualitas A di tingkat petani diketahui bisa mencapai Rp5.000-6.000 per kilogram. Sementara, melon kualitas B terpantau mencapai Rp2.500-3.000 per kilogram. 

Meski harga jual cukup bagus, namun tidak semua petani melon di Kulonprogo, bisa mendapat keuntungan besar. Hal itu disebabkan adanya sebagian petani yang mengalami gagal panen. Penyebabnya adalah cuaca buruk yang mengakibatkan tanaman melon terserang penyakit sebelum masa panen.

Hal ini seperti dialami petani melon asal desa Kanoman, Panjatan, Kulonprogo, Wanto (42). Menanam melon di lahan seluas 4.500 meter persegi, dengan modal Rp20 juta, ia mengaku sekitar 50 persen hasil panen melonnya rusak terkena penyakit, yang diketahui menyerang pada saat tanaman melon memasuki umur 25 hari.

“Tanaman yang terkena penyakit, ujung tunas daunnya akan menguning, setelah itu membusuk dan mati. Kalau sudah seperti itu, melon tidak akan berkembang atau tumbuh membesar lagi, sehingga besar atau berat melon yang dihasilkan tidak masimal,” katanya, Senin (25/9/2017).

Menurut Wanto, serangan penyakit seperti ini baru terjadi pada musim tanam melon kali ini. Sebelumnya, penyakit seperti ini tidak muncul. Penyebabnya diduga karena kondisi cuaca tidak menentu yang terjadi belakangan ini. Di mana hampir bebeberap hari cuaca mendung bahkan sempat hujan.

“Melon butuh cuaca stabil. Sedangkan kemarin kalau sedang panas, panasnya menyengat. Tapi, kemudian mendung, bahkan terakhir sempat turun hujan. Cuaca seperti ini tidak bagus, karena penyakit akan mudah menyerang,” ujar petani yang sudah bertahun-tahun menamam melon itu.

Untuk mengantisipasi penyakit semacam itu, Wanto telah melakukan pemupukan maupun penyemprotan hama penyakit secara rutin. Yakni melakukan pemupukan baik dengan pupuk tabur maupun pupuk cair 5-6 kali. Serta penyemprotan pestisida setiap 2 hari sekali.

“Kalau cuaca buruk seperti ini, penyakit sulit diobati. Solusinya dipanen secepatnya, kalau tidak justru tidak akan panen,” katanya.

Jika pada tahun lalu, di lahan yang sama ia bisa mendapatkan hasil panen melon 15 ton, kini ia pun harus rela hanya mendapat hasil sekitar 6 ton melon saja. “Kalau untuk petani, hasil seperti ini sudah cukup bagus. Karena minimal sudah balik modal. Walaupun secara bisnis, kita rugi tenaga dan waktu,” tutupnya.

Lihat juga...