Geopark Gunung Rinjani Resmi Bersertifikasi dari UNESCO September Ini

PADANG – Ketua Percepatan Geopark Indonesia, Yunus Kusumahbrata mengatakan, hingga saat ini Indonesia telah memiliki enam Geopark, dua di antarnya sudah bersertifikasi UNESCO yakni Geopark Gunung Sewu dan Geopark Batur yang ada di Bali.

Selanjutnya, ada lagi Geopark yang akan bersertifikasi UNESCO yang kini masih dalam proses, yaitu Gunung Rinjani dan Pelabuhan Ratu.

“Khusus untuk Rinjani, direncanakan akan mendapatkan sertifikasi dari UNESCO Global Geopark pada September nanti di Tiongkok,” ujarnya, di Padang, pada kegiatan Seminar Geopark Ranah Minang di Kyriad Hotel Bumiminang, Kamis (7/9/2017).

Ia menyebutkan, selain dari dua Geopark tersebut yang saat ini dalam proses verikasi dari UNESCO, Geopark Indonesia juga tengah mempersiapkan Geopark lain yang ada di beberapa daerah di Indonesia, seperti Merangin Jambi, Kaldera Toba, dan juga termasuk Geopark Ranah Minang.

Menurutnya, hal yang menjadi alasan perlunya adanya Geopark itu, karena mampu memberikan kontribusi untuk pariwisata di Indonesia. Seperti halnya target pariwisata Indonesia yakni 20 juta wisatawan mancanegara. Melalui Geopark, bisa memberikan kontribusi kunjungan wisatawan sebesar 20%. Kontribusi itu yaitu untuk domestik, tercatat kunjungan hampir 260 juta wisatawan, sementara target Indonesia 275 juta.

“Dari sejumlah Geopark yang ada, Geopark Gunung Sewu jumlah wisatawannya mendekati 5 juta pada 2016 lalu,” katanya.

Dengan melihat kondisi yang demikian, Yunus berharap, adanya dukungan dari daerah dan penggiat yang serius punya posisi soal Geopark di daerah, karena hal tersebut sangat penting. Apalagi melihat pada pengalaman sebelumnya, ketika membangun Geopark pada 2007, situasi ketika itu yang dirasakan pihaknya, dukungan daerah dinilai hal yang sangat vital dan strategis. Sebab, apabila daerah mendukung, maka perkembangan Geopark daerah bersangkutan menjadi lebih cepat.

Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Infrastruktur Kemenko Maritim, Arif Rahman Hakim juga mengatakan, dari Kemenko Maritim mencatat masih ada 12 lokasi potensial Geopark Sumatera di antaranya temasuk Geopark di wilayah Sumatera Barat.

Menurutnya, untuk pengembangan Geopark perlu adanya keterlibatan sejumlah pihak, seperti Kementerian Perhubungan, ESDM, Pariwisata, PUPR, Kehutanan, Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, Organisasi Profesi Kebumian, pelaku usaha, dan banyak pihak lainnya.

“Kita lihat ke negara Malaysia, kunjungan wisman hampir tiga kali lipat jumlah kunjungan wisman dibanding Indonesia. Kita harus pikirkan secara serius bagaimana mengungguli ini. Untuk itu, melalui Geopark ini, bisa dijadikan cara untuk menarik wisman untuk datang ke Indonesia,” katanya.

Ia menilai, khusus untuk daerah Sumbar sudah memiliki modal Geopark kelas nasional, bahkan internasional. Yunus menegaskan, untuk memanfaatkan potensi tersebut, sangat diharapkan dukungan keseriusan sejumlah daerah dan pihak lainnya.

Geopark Ranah Minang

Selain itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno juga mengatakan, Geopark akan menjadikan objek alam di Sumbar menjadi suatu taman yang di dalamnya mencakup nilai ekologi, arkeologi, dan nilai-nilai budaya. Ia menilai, pengembangan Geopark tersebut selaras dengan niat Pemerintah Daerah untuk menggeliatkan pariwisata Sumbar.

Irwan menyebutkan, untuk menindaklanjuti dari pembicaraan tersebut, direncanakan ke depan akan mengumpulkan bupati/wako di Sumbar, untuk membicarakan persoalan potensi Geopark di Sumbar. Karena ada sembilan titik potensi Geopark yang bisa disertifikasi sehingga nanti ketika dinilai, destinasi tersebut benar-benar diakui sebagai Geopark.

Menurutnya, untuk mengikat komitmen bersama tentang penanganan Geopark tersebut, maka dilakukan penandatanganan piagam pencanangan Geopark Ranah Minang bersama Pemerintah Daerah, juga dari Kemenko Maritim dan Percepatan Geopark Indonesia.