Gagal Panen, Tanaman Buah Naga Terserang Hama

BALIKPAPAN – Sejak enam bulan terakhir petani buah Naga di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengalami gagal panen akibat tanaman terserang hama. Akibat gagal panen itu, hanya sebagian petani yang berhasil panen buah naga, hasilnya juga kurang memuaskan akibat terserang hama. Dengan terserangnya hama maka jumlah buah yang dipanen juga tidak banyak.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Kelautan Balikpapan, Yosmianto, mengungkapkan, buah naga yang menjadi hasil pertanian di Balikpapan ini sudah tidak banyak, mengingat sejak enam bulan terakhir masih terserang hama atau virus yang menyebabkan hasil buah naga itu tidak tumbuh sempurna.

“Peristiwa ini sudah ada enam bulanan, buah yang dihasilkan juga kurang berkualitas. Karena buah yang terserang hama, kalau kami bilang itu virus menyebabkan pohon dan buahnya berkoreng. Tidak seperti biasanya hasilnya, tidak ada botel-botelnya,” paparnya, saat ditemui Senin (11/9/2017).

Luas area tanam petani buah naga 40 hektare. Seluas area itu, petani bisa menghasilkan 1 ton buah naga untuk 1 hektare masa panen. Tanaman buah naga bisa panen sekitar 50 hingga 60 hari.

“Bisa panen kalau tanaman buah naga tidak terserang hama, namun apabila terserang hama buah yang dihasilkan juga tak banyak. Saat ini petani ada yang membiarkan tanamannya sampai mati, tapi bisa berbuah dengan hasil yang tidak memuaskan,” tuturnya.

Menurut pria yang akrab disapa Yos, upaya yang disarankan dan dilakukan ke petani adalah melakukan pembasmian hama secara radikal dengan memusnahkan tanaman yang ada agar tidak terserang kembali.

Hal itu sebagian ada yang dilakukan oleh petani dan sebagian petani membiarkan tanamannya tumbuh dan berbuah dengan hasil tidak sempurna.

“Ya ada caranya agar hasilnya tidak berkoreng atau botel-botel lagi yaitu dibasmi semua hamanya dengan memusnahkan tanamannya sementara, kemudian ditanam kembali. Hal itu agar buah naga berbuah dengan hasil yang memuaskan,” tandasnya.

Meski gagal panen, petani tetap panen dengan jumlah yang tidak banyak. Kendala yang dihadapi, harga buah bisa jatuh sebelum masa panen. “Masa panen memang ada dan buahnya banyak, tapi harganya anjlok. Kalau anjlok itu Rp5000 hingga Rp8000 per kilogram. Sementara kalau tidak musim dan banyak yang mencari harga bisa Rp15 ribu per kilogram,” tukasnya.

Salah seorang petani buah naga, Hamsiah mengatakan, saat ini tanaman buah naga tumbuh dan tidak ada pemusnahan menunggu masa tanam buah naga selesai. “Memang hasilnya tidak memuaskan sehingga buah naga yang dipanen juga dikonsumsi sendiri. Serta untuk sekitar saja. Sementara tidak dijual, kalau ada yang bagus ya baru bisa dijual,” ujarnya.

Dia mengaku, area yang ditanam juga tidak luas. Nantinya apabila tanaman sudah tidak berbuah baru, akan dimusnahkan. Kemudian diganti dengan tanaman yang baru.

“Saya juga tidak tahu kenapa bisa terserang virus, yang lainnya juga begitu,” tambahnya.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Kelautan Balikpapan, Yosmianto. Foto: Ferry Cahyanti
Lihat juga...