LEBAK — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten menyebutkan, saat ini, warga yang tinggal pada enam desa terpaksa mencari air bersih ke luar daerah hingga berjalan kaki mencapai tiga sampai empat kilometer.
“Mereka mencari air bersih di daerah aliran sungai dan sumber mata air,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak Kaprawi di Lebak, Sabtu (23/9/2017).
Disebutkan, keenam desa itu antara lain Desa Jalupang Mulya, Desa Sangkanwangi, Desa Cibungur Kecamatan Leuwidamar, Desa Gunungsari dan Desa Kumpay Kecamatan Banjarsari, Desa Cihara Kecamatan Cihara.
Karena itu, pihaknya meminta kepala desa segera melaporkan jumlah kepala keluarga yang mengalami krisis air bersih.
“Kami siap memasok air bersih melalui kendaraan tangki, namun setelah adanya laporan kepala desa itu,” katanya.
Kaprawi menyebutkan, potensi kekeringan di Kabupaten Lebak tersebat meliputi 14 kecamatan antara lain Kecamatan Wanasalam, Cilograng, Cihara, Bayah, Rangkasbitung, Cibadak, Sajira, Cimarga, Muncang, Warunggunung, Cileles, Leuwidamar, Maja dan Curugbitung.
Sementara itu, pihak BPBD Lebak belum menetapkan status darurat kekeringan meski sejumlah desa mengalami krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan di wilayah itu.
“Kami belum menetapkan status darurat kekeringan,” sebutnya
Selama ini, kekeringan yang terjadi di Kabupaten Lebak masih bisa ditangani dengan menyalurkan bantuan pasokan air bersih.
BPBD pekan lalu sudah menyalurkan pasokan air bersih ke Desa Muara Kecamatan Wanasalam sebanyak 483 kepala keluarga dan Desa Cibungur, Kecamatan Leuwidamar 230 KK.
Masyarakat yang dilanda krisis air bersih itu akibat dampak kemarau yang menimbulkan kekeringan.
Saat ini, BPBD menyiagakan empat kendaraan tangki dengan kapasitas 6.000 liter untuk menyalurkan bantuan air bersih.
Selain itu, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan PDAM Kabupaten Lebak dan BPBD Provinsi Banten.
Kerja sama itu jika terjadi krisis air bersih dapat ditangani secara bersama-sama karena mereka juga memiliki truk tangki air bersih.[Ant]