Distanbun Lebak Optimistis Lumbung Pangan Banten

LEBAK – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak optimistis menjadi lumbung pangan di Provinsi Banten meskipun terjadi kemarau yang mengakibatkan jadwal tanam mundur.

“Kami yakin Oktober-November memasuki musim hujan dan petani bisa melaksanakan percepatan tanam,” kata Kepala Distanbun Kabupaten Lebak Dede Supriatna, di Lebak, Sabtu.

Pemerintah daerah menjamin produksi pangan surplus dan melimpah karena areal persawahan yang memasuki panen juga masih ada, kendati jumlahnya relatif kecil.

Kebanyakan areal persawahan yang panen itu karena memiliki pengairan dan bisa dilakukan penyedotan melalui pompanisasi.

Bahkan, pihaknya menerjunkan Brigade Alsintan dengan membantu petani agar menggunakan pompa untuk menyedot air dari daerah aliran sungai.

Sejauh ini, petani yang memiliki pengairan bisa tanam dan terpengaruh kemarau berkepanjangan.

“Kami terus mendorong petani dapat menggunakan pompa jika memiliki pengairan karena bisa dilakukan penyedotan,” katanya pula.

Menurut Dede, pihaknya mengapresiasi hingga Agustus 2017 produksi pangan di Kabupaten Lebak surplus hingga 12 bulan ke depan dengan produksi 235.453 ton beras.

Produksi beras itu dapat menyumbangkan kebutuhan konsumsi masyarakat Provinsi Banten.

Selama ini, produksi beras Kabupaten Lebak juga dipasok ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Provinsi Banten hingga DKI Jakarta.

Dari produksi 235.453 ton beras itu jika dikalkulasikan penduduk Kabupaten Lebak berjumlah 1,2 juta jiwa sampai November 2017 kebutuhan konsumsi beras 92.450 ton.

Sedangkan, kebutuhan konsumsi beras 140.200 ton per tahun dengan rata-rata 114 kilogram per kapita per tahun dan jika per bulan 11.777 ton.

Sementara sisanya produksi beras sampai Agustus 2017 mencapai 141.239 ton dan bisa memenuhi kebutuhan selama 12 bulan ke depan.

“Kami menilai musim kemarau itu produksi beras di Lebak masih melimpah dan tidak menimbulkan kerawanan pangan,” katanya.

Dede mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen untuk mendukung produksi pangan guna memenuhi ketersediaan pangan nasional juga meningkatkan pendapatan ekonomi petani.

Komitmen pemerintah itu, antara lain dengan menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) kepada kelompok tani di antaranya pupuk, pestisida, perbaikan jaringan irigasi dan pompa.

Selain itu, juga bantuan alat pertanian (alsintan) seperti traktor, mesin pengering, juga pabrik penggilingan beras.

Begitu juga peningkatan kompetensi petani melalui pelatihan-pelatihan, sehingga dapat menerapkan rekayasa teknologi pertanian.

Pihaknya juga bekerja sama dengan pemangku kepentingan, di antaranya TNI, Perum Bulog, dan gabungan kelompok tani (gapoktan).

Kerja sama itu tentu untuk mendukung kebijakan pemerintah untuk merealisasikan program swasembada pangan.

Kabupaten Lebak merupakan daerah penyumbang terbesar sektor pertanian pangan. “Kami yakin melalui intervensi bantuan pemerintah itu dapat mendongkrak produksi pangan,” ujar dia lagi. (Ant)

Lihat juga...