UGM Kembangkan Hutan Buatan di Bekas Pabrik Semen

YOGYAKARTA — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta akan mengembangkan aplikasi rekayasa silvikultur untuk untuk peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di area kerja bekas pabrik semen. Teknik rekaysa silvikultur akan diterapkan di daerah bekas penambangan dengan menanam jensi pohon yang mampu mengembalikan lahan menjadi lestari kembali.

“Kita kan menanam pohon pionir yang akan mampu mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula, tentu memerlukan waktu yang panjang,” kata Dekan Fakultas Kehutanan UGM Dr. Budiadi saat penandatanganan notakesepahaman kerja sama oleh Fakultas Kehutanan UGM dan Pabrik Semen Baturaja, di ruang Sidang Dekanat Fakultas Kehutanan UGM, Rabu (2/8/2017).

Budiadi mengatakan, kerja sama dengan perusahaan semen ini baru pertama kalinya dilakukan oleh Fakultas Kehutanan dalam memperbaiki kondisi kualitas lingkungan di area kerja. Meski begitu, penanaman jenis pohon untuk tanaman hutan di daerah bekas tambang menurut Dekan akan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi tanah di area tambang Semen Baturaja.

Menurutnya beberapa kemungkinan jenis pohon yang akan ditanam seperti jenis tanaman kacang-kacangan untuk penutupan tanah dan cemara laut yang memiliki kemampuan menyerap nitrogen lebih besar di dalam tanah. “Kemampuan kedua jenis tanaman ini memiliki kemampuan penyerapan nitrogen lebih besar sehingga bisa menyuburkan tanah kembali,” ujarnya.

Sementara itu, Dirut Semen Baturaja, Rahmad Pribadi mengatakan, kerja sama ini tidak hanya hanya sebagai project untuk kegiatan pelestarian lingkungannamuin juga menjadi lokasi riset bagi peneliti di lingkungan perguruan tinggi. “Kita ingin riset yang ada di UGM bisa dipakai di tempat lain dan memberikan manfaat untuk masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.

Apabila kegiatan penerapan rekayasa silvikultur ini berhasil menurut Rahmad akan dapat menjadi contoh bagi pengembangan industri semen yang lain di Indonesia dalam mereplikasikan apa yang sudah dilakukan oleh Semen baturaja dan Fakultas Kehutanan UGM dalam mengembalikan kondisi kelestarian lingkungan.

“Kita berharap nantinya bisa direplikasi di tempat lain, bahwa industri ekstraktif dan pelestarian lingkungan bisa jalan beriring,” tutupnya.

Lihat juga...