LAMPUNG — Belanja menjadi salah satu sarana bagi kaum wanita untuk memenuhi kebutuhan akan pakaian (serta menghilangkan rasa jenuh terutama pada akhir pekan sembari menikmati liburan.
Rini salah seorang gadis asal Lampung Timur menyebut tren untuk berbelanja pakaian bersama rekan menjadi kesempatan untuk mengisi waktu libur akhir pekan sekaligus memilih baju yang akan dipergunakan untuk kerja dan bersantai.
Dia bersama kawannya ia telah menjelajahi beberapa toko fashion di Kabupaten Lampung Timur untuk mencari baju luaran (outer) dan dipadupadankan dengan kaos untuk aktivitas santai. Sementara untuk kerja dirinya sudah memiliki seragam sehingga memilih mencari baju gamis untuk aktivitas kondangan sekaligus hijab.
Setelah mencari di beberapa pusat belanja di Lampung Timur ia pun mendapatkan baju yang diinginkannya di Way Sidomukti Kecamatan Ketapang yang ada di perbatasan antara Lampung Selatan dan Lampung Timur.
“Kami anak anak muda yang ada di wilayah Lampung Timur banyak membeli pakaian di Lampung Selatan karena banyak toko fashion dan distro dengan banyak pilihan model dan harganya cukup bersaing,” terang Rini salah satu gadis asal Labuhan Ratu Lampung Timur saat dijumpai Cendana News di Nur Fashion and Collection Way Sidomukti Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Minggu (6/8/2017)
Rini mengungkapkan Ketapang khususnya di Jalan Lintas Timur Sumatera wilayah Sidoasih, Way Sidomukti,Pematangpasir merupakan kawasan yang banyak memiliki tempat untuk belanja kebutuhan fashion.
Beberapa toko diakuinya menyediakan secara khusus pakaian,aksesoris,sepatu,tas dan perlengkapan wanita mulai anak anak hingga orang dewasa mulai baju santai hingga baju resmi bahkan sesuai keinginan yang dijual melalui butik dan distro dan banyak didatangi saat akhir pekan dan hari libur.
Nuraini selaku pemilik Nur Fashion and Collection mengaku di toko miliknya secara khusus menyediakan baju baju yang dominan diperuntukkan bagi para gadis, kaum ibu dan anak anak perempuan karena pangsa pasar untuk usia anak anak dan wanita sangat besar.
Ia bahkan menyebut tren belanja anak anak saat ini dengan adanya sistem penjualan secara online dan offline dengan memanfaatkan media sosial Facebook dan Instagram.
“Strategi marketing yang saya gunakan bersama anak saya yang masih duduk di bangku SMA dengan media sosial sehingga ada yang melihat modelnya di galeri terus memesan dan ada yang mendatangi langsung ke toko,” terang Nuraini.
Beberapa jenis baju yang diakuinya langsung didatangkan dari pusat grosir di Jakarta tersebut dibeli menyesuaikan tren anak muda khususnya gadis dan kaum wanita dewasa yang ada saat ini dengan berbagai model yang terus berubah.
Nuraini bahkan menyebut keberadaan konveksi untuk pemenuhan pakaian saat ini didominasi oleh pakaian pakaian untuk seragam resmi sekolah,instansi dan lembaga sementara untuk baju santai banyak didatangkan dari tempat lain.
Harga fashion yang dibanderol dari kisaran Rp30 ribu hingga Rp300 ribu sesuai model dan ukuran diakuinya cukup memberi omzet yang menguntungkan baginya selama memiliki toko fashion.
Toha salah satu pemilik usaha jahit dan konveksi di Rejosari dengan nama Mandiri konveksi mengaku tren pergeseran minat masyarakat akan pakaian hasil konveksi mulai menurun karena masyarakat khususnya anak muda, gadis dan kaum ibu memilih membeli pakaian jadi yang dijual oleh toko toko besar.
Sebagai upaya untuk tetap menjalankan bisnis konveksi miliknya ia bahkan masih tetap melayani pembuatan baju baju seragam olahraga, baju dinas, organisasi tertentu dan tidak lagi melayani pembuatan baju baju sehari hari dengan mesin jahit yang juga dikerjakan oleh sang isteri. Sebagian masyarakat khususnya gadis bahkan mendatangi konveksi miliknya yang juga memiliki mesin jahit untuk proses permak pakaian diantaranya mengecilkan ukuran baju.
Iva, pemilik toko fashion Zalorahijab di Desa Pematangpasir Kecamatan Ketapang yang masih berada di Jalan Lintas Timur Lampung mengaku selain menyediakan berbagai jenis fashion untuk wanita dirinya juga menyediakan fashion untuk laki laki meski presentasenya lebih sedikit dibanding busana wanita.
Meski pembeli bisa datang langsung dan belanja di toko miliknya (offline) namun ia mengaku sebagian memilih membeli menggunakan media sosial (online) dan dikirim dengan sistem cash on delivery (COD) bagi pelanggannya setelah melihat model pakaian yang dipilih melalui Facebook dan Instagram.
“Kalau hari libur biasanya anak anak muda banyak yang langsung datang ke sini memilih model yang disukai sekaligus jalan jalan dan belanja”terang Iva.
Iva menyebut kawasan tempatnya berjualan kini menjadi kawasan yang banyak dijumpai toko toko fashion sehingga peminat bisa memiliki banyak pilihan. Selain sebagian menyediakan berbagai jenis fashion namun sebagian diakuinya menyediakan fashion bertema khusus diantaranya khusus hijab dan busana muslim, kaos,aksesoris dan alas kaki.
Keberadaan toko toko yang banyak menjadikan kawasan Jalan Lintas Timur di seputaran Pasar Pematangpasir tersebut menjadi pusat belanja para wanita khususnya yang mencari fashion dan saling melengkapi.
“Anak anak muda khususnya para gadis kan ada yang memilih model tertentu tidak ada di toko lain namun ternyata di temui di toko saya dan sebaliknya,selain itu ada pelanggan yang mencari sepatu yang saya tidak jual”ungkap Iva.
Saat ini ia mengakui tren belanja ikut terbantu dengan keberadaan media sosial sehingga meningkatkan angka penjualan yang diakuinya saat ini beberapa pakaian perstel dijualnya dengan harga mulai Rp50 ribu hingga Rp200 ribu.
Omzet yang cukup lumayan tanpa mau disebut diakui Iva menunjukkan tren kebutuhan akan fashion khususnya wanita masih cukup dan menguntungkan para pemilik usaha penjualan fashion.



