Theresia Rintis Kedai Kopi Flores Pertama di Maumere

MAUMERE —  Menjadi seorang wirausaha tetap tertanam dalam diri Theresia Isidoris Fernadez, meski sudah bekerja menjadi pegawai swasta di Jakarta dan merintis karir menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten Sikka.

Kedua pekerjaan ini terpaksa ditinggalkan agar dirinya bisa fokus mengurusi bisnis pribadinya yang masih berskala usaha kecil dan manengah (UKM)  di bidang Tour and travel serta Sibakloang Gallery and Coffee shop yang bergerak di bidang penjuala kopi, kedai kopi serta souvenir berbahan baku tenun ikat.

Perempuan kelahiran Sikka 38 tahun silam ini saat ditemui Cendana News di rumah dan tempat usahanya di Pusat Grosir dan Cinderamata (PGC) Sikka Sabtu (5/8/2017) sore mengaku awalnya berbisnis biro perjalanan selepas mengundurkan diri dari PNS karena tidak kuat menghadapi tarik-menarik kepentingan dalam pekerjaan.

“Saya awalnya juga tidak mau jadi PNS namun karena mengikuti keinginan orang tua akhirnya bersedia ikut tes tapi mungkin saja berkat doa orang tua, meski asal-asalan akhirnya lulus,” ungkapnya.

Awalnya bekerja di dinas Pariwisata namun setelah dipindah ke bagian umum Setda Sikka dirinya merasa tidak cocok dan meminta pindah ke kantor lurah hingga akhirnya mengundurkan diri tanpa mendapat pesangon.

“Saya merasa itu bukan dunia saya sehingga saya berniat mengundurkan diri tetapi sebelumnya pun saya sudah merintis usaha kecil-kecilan sehingga lebih fokus mengembangkan usaha,” tuturnya.

Salah satu jenis souvenir yang dijual di Subakloang Gallery and Coffee Shop. Foto : Ebed de Rosary

Potensial Dikembangkan

Theresia tertarik mengembangkan souvenir dari tenun ikat dan kopi sebab wisatawan yang diantarnya ke Sikka selalu kesulitan mendapatkan oleh-oleh bila ingin dibawa pulang.

Ibu tiga anak perempuan ini tertarik bisnis kopi sebab kopi Indonesia menempati urutan ketiga di dunia serta kopi Flores termasuk 7 kopi terbaik di Indonesia namun dirinya melihat petani kopi belum terlalu tertarik menanam sebab harga jual di pasar lokal sangat rendah sekali dan daya belinya juga kurang.

“Sikka sangat potensial untuk mengembangkan kopi terutama di dua kecamatan  di Hewokloang dan Nita, namun belum digarap serius karena petani merasa harganya jauh di bawah cengkeh tapi bila mutunya bagus harga kopi juga lumayan dan saat ini saja bisa sampai 100 ribu per kilogramnya,” tuturnya.

Dengan berbisinis kopi Theresia juga ingin meningkatkan pendapatan petani sebab dirinya akan mengajak teman-teman yang ahli kopi untuk datang dan mengajarkan petani cara budidaya kopi yang benar serta menjaga kualitas kopi agar harganya bisa tinggi.

Awal tahun 2014 dirinya masih mengambil kopi dari daerah Flores Timur, Nagekeo, Ngada dan Manggarai namun sejak tahun 2017 perempuan energik ini mulai berani mengambil kopi dari dua daerah di Sikka ini sebab selain aromanya khas, kualitasnya pun sudah lebih baik.

“Saya masih tetap mengambil kopi dari Nagakeo, Ngada dan Manggarai sebanyak 80 persen sementara sisanya 20 persen masih disuplai dari Sikka sebab pembeli saya banyak dan kadang kewalahan melayani mereka,” terangnya.

Isteri  dari Vinsensius Mosa ini mengakui promosis lewat media sosial sangat efektif selain orang yang sudah membeli dan mencobanya sehingga permintaan akan kopi sangat besar dan dirinya merasa kewalahan bila hanya mengambil dari Sikka sendiri sebab stok kopi terbatas.

“Saya punya niat ke depan kopi di Sikka bisa setara pasokannya dengan dari daerah lain di Flores sebab produknya bisa bersaing dan saya akan buat workshop dan penyediaan bibit serta budidaya stek yang sudah ada sebab ini kerja sama saya dengan petani,” ungkapnya.

Theresia mengaku setelah permintaan kopi meningkat dirinya ingin memperkenalkan kopi Flores kepada khalayak ramai termasuk cara minum kopi yang benar denga kualitas yang bagus sehingga berniat membuat kedai kopi yang akan diluncurkan nanti tanggal 19 Agustus 2017.

Kedai kopi juga dijadikan sarana olehnya dalam mempromosikan tenun ikat Sikka sebab selain minum kopi pengunjung kedai kopi pun bisa melihat souvenir tenun ikat dan aneka souvenir lainnya yang dipajang di galerinya.

Untuk kopi Roasted ukuran 250 gram dijual 60 ribu rupiah sementara 500 gram dijual 90 ribu rupiah untuk jenis kopi Arabika sementara ukuran 1 kilogram jenis Arabika dijual 150 ribu rupiah sementara Robusta dilepas dengan harga 140 ribu rupiah sebab kontur tanah, ketinggian tempat dan rasa Arabika lebih bagus.

Sementara kopi bubuk jenis Arabika dijual 170 ribu rupiah sementara Robusta dijual 180 ribu rupiah sedangkan jenis Yellow Caturra masih belum banyak dikembangkan di Flores dan harganya lebih mahal.

“Lumayan lah dari penjualan kopi saja kalau pesanan banyak saya bisa untung hingga belasan juta rupiah sebulan sementara kalau sepi paling beberapa juta saja tapi saya bangga bisa mempekerjakan orang lain,” tuturnya.

Theresia Isidoris Fernandez di kedai kopi miliknya. Foto : Ebed de Rosary

Perlu Dibantu

Theresia berharap pemerintah bisa membantu anak-anak muda yang memiliki mental wirausaha agar bisa berkembang dan bersaing dengan usaha lainnya teristimewa pelathinan manajemen.

Selain itu, tambahnya, usah kecil dan manengah perlu dikirim berpameran di luar daerah agar mereka bisa belajar mengenai cara menjual produk serta dapat menimba ilmu dari usaha kecil dan manengah dari daerah lain.

“Promosi memang penting dan saya juga selalu mengandalkan promosi lewat media sosial serta internet namun perlu juga mengikuti pameran agar produk kita bisa dikenal,” ungkapnya.

Theresia bersyukur dinas Pariwisata kabupaten Sikka membangun Pusat Jajanan dan Cinderamata yang bisa dipergunakan sebagai tempat usaha namun tempat tersebut perlu ditata dan dibangun beberapa kios lagi agar bisa menampung lebih banyak usaha kecil dan manengah.

“Tempatnya sudah bagus dan strategis namun perlu dibangun lebih banyak kios lagi dan selalu diadakan kegiatan hiburan di panggung yang ada agar banyak orang yang mengunjungi tempat ini,” harapnya.

Kepala dinas Pariwisata Sikka Drs.Kensius Didimus kepada Cendana News Selasa (8/8/2017) mengatakan, pemda Sikka memang sejak awal membangun Pusat Jajanan dan Cinderamata ingin member ruang kepada pengusaha kecil dan manengah untuk berjualan di tempat ini.

Nanti di tempat ini jelasnya, setiap malam minggu akan dipentaskan seni budaya serta pihak-pihak sekolah atau masyarakat yang ingin membuat kegiatan seni budaya bisa memanfaatkan panggung dan sarana yang ada di tempat ini.

“Memang ada rencana untuk membangun lagi beberapa kios bila tempat ini sudah ramai dikunjungi masyarakat khususnya wisatawan yang ingin membeli souvenir atau oleh-oleh khas Sikka,” ungkapnya.

Lihat juga...