Sekolah Swasta di NTB Terancam Gulung Tikar
MATARAM — Tempo hari sekolah swasta, khususnya madrasah dan Pondok Pesantren (Ponpes) menjadi sekolah yang banyak diminati masyarakat menyekolahkan anaknya.
Pilihan sebagian masyarakat terutama masyarakat pedesaan menyekolahkan anaknya di sekolah swasta seperti Ponpes, selain biaya murah, dengan menyekolahkan anak di Ponpes bisa mendapatkan pendidikan agama sekaligus.
Tapi seiring perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan, sekolah swasta mulai sepi peminat dan banyak ditinggalkan. Sebagian masyarakat dan anak lebih memilih sekolah negeri seperti SMPN dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN).
Sedikit sekali orang tua termasuk anak yang mau memasukkan anaknya ke sekolah swasta seperti madrasah dan ponpes. Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian besar sekolah swasta nyaris gulung tikar.
Kalaupun ada yang masih tetap eksis hanya satu dua yang telah memiliki nama, ciri khas dan bisa menyesuaikan dengan konsep pendidikan kekinian.
“Kondisi sebagian besar lembaga pendidikan swasta sekarang ini banyak yang memprihatinkan nasibnya, sebagian di antaranya malahan sudah tutup, karena sepi peminat,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB), Seruji di Mataram, Rabu (2/8/2017).
Bahkan ada juga sekolah swasta yang sudah hilang, tembok telah tua dan dirobohkan, karena memang sudah nggak ada siswa seperti saat dirinya mengunjungi salah satu sekolah swasta yang ada di Mataram baru-baru ini
Menurut Seruji banyaknya menjamur sekolah swasta ditambah sekolah negeri yang belakangan jumlahnya mulai banyak juga menjadi salah satu penyebab banyak d iantara sekolah swasta tutup
“Kita barharap akan ada langkah- langkah terobosan dari pihak pengelola atau yayasan, kalau bisa dikelompokan atau digabung dengan sekolah terdekat, sehingga akan lebih mudah diberikan bantuan, khususnya terkait anggaran dalam upaya pengembangan” katanya
Langkah tersebut penting dilakukan, supaya kedepan sekolah swasta yang susah dikembangkan dan dipertahankan kita biarkan saja selesai tapi bagi sekolah yang memang potensial akan terus dorong
Supaya jangan lembaganya saja yang banyak tapi tidak aktivitas pembelajaran dan peserta didik minim. Intinya kalau dua tahun gak ada siswanya itu alamat kalau sekolahnya tidak ada peminatnya.
“Intinya, kita bicara dari sisi minat masyarakat, artinya kalau sekolah itu tidak diminati oleh masyarakat dalam rentan waktu sekian tahun lama lama akan tutup, kalau sudah demikian terus mau nģapain kan sudah pasti tidak ada gurunya, sekolahnya mati yang begitu masa mau dipertahankan.”
Lebih lanjut Seruji menambahkan, Pemprov NTB berharap yang swasta ini agar bisa bersaing dengan sekolah negeri, agar kualitas bisa sama dengan sekolah negeri makanya kita akan melakukan penguatan.
“Tahun ini ada beberapa sekolah swasta yang memang benar-benar masih eksis dan beroperasi akan diberikan lab komputer, kemudian ada juga dibantu rehab dan ruang kelas baru.”
Rahmat, Guru swasta salah satu Ponpes di Kabupaten Lombok Tengah mengatakan, posisi sekolah swasta sekarang ini memang pada posisi sangat dilema.
Sebagian masyarakat tidak lagi tertarik memasukkan anaknya ke sekolah swasta, walaupun tidak sedikit di antara sekolah swasta yang membebaskan biaya sekolah kepada masyarakat, khususnya dari kalangan masyarakat tidak mampu.
“Kalau ingin bisa eksis, harus ada program yang ditonjolkan dari sebuah lembaga pendidikan swasta seperti pendidikan tahfidz, baru masyarakat akan tertarik. Kalau model pendidikan sama seperti sekolah swasta lain maupun lembaga pendidikan negeri, sudah pasti akan ditinggalkan.”