Sekolah PLK Cerdas Anak Bangsa Ditutup Oleh Pemilik Lahan
MAUMERE — Sekolah dasar Pendidikan Layanan Khusus (PLK) Cerdas Anak Bangsa yang berada di Kampung Wairbukang, Dusun Wodong, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka ditutup oleh pemilik lahan sejak 18 Juli 2017 sehingga kegiatan belajar mengajar otomatis tidak berjalan.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka belum mengetahui hal ini. Dia malahmengaku sekolah tersebut pengelolaannya berada di bahwa Dinas Pendidikan provinsi NTT.
“Saya belum mengetahui informasi itu, lagi pula sekolah tersebut pengelolaannya berada di bahwa Dinas Pendidikan Provinsi NTT,” sebut Simon Subsidi.
Kepala dinas PKO kabupaten Sikka ini saat dihubuni Cendana News, Kamis (3/8/2017) sore juga membantah bahwa dirinya bersama Bupati Sikka akan mengunjungi sekolah tersebut besok Jumat (4/8/2017) untuk melihat situasi yang terjadi seperti yang disampaikan pengelola sekolah tersebut kepada orang tua murid.
“Tidak benar, kami tidak ada agenda ke sekolah tersebut sebab saya juga tidak mendpaatkan informasi soal adanya penyegelan yang membuat aktifitas belajar mengajar terhenti,” tegasnya.
Bernadus Brebo, Ketua Komite PLK Cerdas Anak Bangsa sekaligus ketua RT 017 kampung Wairbukang saat dihubungi Cendana News Kamis (3/8/2017) pukul 17.30 WITA mengakui bahwa dirinya melakukan penyegelan sekolah tersebut sejak 18 Juli 2017.
Dikatakan Bernadus, dirinya menutup sekolah sebab sekolah tersebut dibangun di atas tanah miliknya. Dirinya bersama para orang tua murid merasa kesal karena dilecehkan pengelola sekolah yang berada di dalam kawasan hutan lindung ini. Pengelola sekolah meminta agar bantuan dana dari pemerintah harus diketahui oleh orang tua murid.
“Pengelola katakan jangan mengetahui jumlah bantuan dana dan bicara terbuka saja kalau mau minta seragam dan sepatu mereka akan membelikan untuk dibagikan kepada anak-anak didik,” tuturnya kesal.
Para orang tua murid juga lanjut Bernadus, merasa kesal sebab penyelenggraan kegiuatan belajar mengajar tidak berjalan normal bahkan dalam sebulan cuma 3 atau 4 hari saja melakukan kegiatan belajar mengajar.

Bahkan KBM bulan Januari dan Februari tidak pernah berlangsung dan mulai dilaksanakan pada bulan Maret tandasnya, tapi itu pun tidak berjalan setiap hari sehingga para orang tua sedih melihat nasib anak-anak mereka.
“Anak-anak tidak bersekolah dan sejak dua hari lalu baru guru-guru menganggkut kursi dari dalam kelas dan meletakan di luar halaman sekolah sehingga kegiatan belajar mengajar hanya berlangsung di bawah pohon,” paparnya.
Selama sekolah ditutup beber Bernadus, pengelola dan kepala sekolah juga tidak pernah hadir atau datang untuk mencari solusi penyelesaiannya bahkan menakuti masyarakat dengan mengatakan tanggal 4 Agustus 2017 akan ada kunjungan dari bupati Sikka, kepala dinas Pendidikan,Kepemudaan dan Olahraga (PKO) serta kepala UPT PKH Kehutanan kabupaten Sikka ke lokasi sekolah.
“Tadi saya cek di K.epala Desa Wairterang ternyata hal itu tidak benar. Kepala desa katakan itu omong kosong. Tapi kalau para pejabat datang saya merasa senang sebab kami akan beberkan permasalahan yang terjadi,” pungkasnya
