SDN 015 Balikpapan Terapkan Pendidikan Karakter Berwawasan Lingkungan
BALIKPAPAN — Sejak diterapkan pendidikan karakter berwawasan lingkungan yang masuk dalam kurikulum pada muatan lokal daerah, SD Negeri 015 Kecamatan Balikpapan Kota Balikpapan, terus meraih penghargaan Adiwiyata dari tingkat kota hingga nasional.
Pada 2017 ini, SDN 015 memperoleh penghargaan Adiwiyata Mandiri untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya memperoleh penghargaan Adiwiyata tingkat Provinsi Kaltim dan kota.
Penerapan pendidikan karakter berwawasan lingkungan diterapkan setiap hari agar anak didiknya memahami menjaga lingkungan seperti menjaga kebersihan lingkungan sekitar dari ruang kelas, hingga di luar kelas dan memperhatikan ruang terbuka hijau yakni tanaman sekitar.
“Penerapan pendidikan berwawasan lingkungan di beberapa mata pelajaran dan sebelum memulai pelajaran. Seperti lima menit (Limit) sebelum pelajaran siswa diminta memungut sampah di sekitar lingkungan mereka,” terang Pengelola Teknis Keuangan SD 015 Balikpapan Selatan Yuliatisaat didatangi ke sekolah SDN 015 Balikpapan.
Dijelaskannya, selain penerapan limit juga ada mars atau lagu tentang membuang sampah yang mudah dihafal. Dengan sedikit pendidikan karakter berwawasan lingkungan itu anak-anak usia sekolah dasar itu dapat mengingat selalu menjaga kebersihan.
“Dari pendidikan karakter itu juga dikembang dengan adanya polisi kebersihan dari siswa kelas 4,5 dan 6 yang bertugas keliling sekolah dan memonitor teman maupun adik kelasnya yang membuang sampah sembarangan,” paparnya didampingi salah seorang Guru kelas Sri Rahayu, Kamis (3/8/2017).
Apabila nanti ditemukan siswa yang membuang sampah sembarangan lebih dari 5 kali maka sanksinya membawa bibit pohon yang ditanam di sekolah. Hal itu agar siswa yang bersekolah di Balikpapan belajar peduli terhadap lingkungannya.
Sekolah yang memiliki anak didik sebanyak 1.155 siswa ini juga memiliki bank sampah yang dikoordinir oleh guru sekolah. Dari bank sampah sekolah memilah sampah dan siswa yang membuang sampah sesuai jenis tempat sampah seperti sampah kering, sampah basah, plastik, dan beracun.
Melalui penempatan tempat sampah tersendiri, maka guru yang mengkoordinir bank sampah tinggal memilahnya ke bak sampah yang lebih besar.
Koordinator bank sampah Eli Janati menjelaskan sampah yang ada di sekolah dikelola sendiri yakni dengan memilah kemudian di daur ulang dan bernilai ekonomis.
“Setiap tahun dengan adanya bank sampah, jumlah sampah yang dihasilkan semakin sedikit terlihat pada Mei 2017 sampah yang dikumpulkan hanya 9 kilogram. Sementara waktu Desember 2015 sebanyak 180 kilogram. Artinya kesadaran siswa dalam membuang sampah pada tempat yang sudah disendirikan sudah cukup tinggi,” ulasnya.
Dari tahun ke tahun sampah yang dihasilkan berkurang dan mayoritas kertas. Selanjutnya sampah dijual dan uang hasil dari sampah dibelikan untuk keperluan lingkungan seperti bak sampah dan tanaman.
“Hasil penjualan sampah untuk kelengkapan fasilitas kebersihan sekolah. Seperti pembelian tong sampah, menghias tong sampah. Dari lingkungan untuk lingkungan,” tandasnya.
Disebutkannya jumlah tong sampah di sekolah 75 tong sampah dengan masing-masing jenis sampah di tiap depan ruang kelas.
Untuk mempertahankan Adiwiyata Mandiri Yulliati mengatakan meningkatkan karakter siswa menjadi lebih baik dengan cara yang menarik. Kemudian juga membina sekolah lain supaya menjadi sekolah adiwiyata.
“Ada 10 sekolah yang kami bina untuk menularkan sekolah itu berwawasan lingkungan. Berwawasan lingkungan itu dari siswa nya membawa bekal makanan dan tempat minuman sendiri. Dengan cara itu mengurangi jumlah sampah plastik dan lebih sehat,” tukasnya.
Selain itu, pihaknya menambahkan perolehan penghargaan adiwiyata mandiri juga diraih berkat kerjasama siswa, orangtua, komite dan guru sekolah dalam menjaga lingkungan sekolah.