Polusi Udara, Minimalisir Sistem Tebas Bakar
LAMPUNG – Sistem tebas bakar di lahan pertanian wilayah Kecamatan Ketapang yang berimbas polusi udara di lingkungan warga masih kerap dilakukan oleh masyarakat untuk mempermudah proses pembersihan pada lahan pertanian padi dan jagung.
Somad, warga Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang mengaku, masih menerapkan pola pembakaran sisa hasil pertanian meski ia mengungkapkan akibat yang ditimbulkan pencemaran udara berimbas pada pernafasan bahkan mengganggu pengendara yang melintas di wilayah tersebut.
Pemilik lahan jagung sebanyak satu hektar tersebut mengungkapkan, sistem tebas bakar limbah sisa hasil pertanian masih diterapkan oleh warga karena lebih praktis dan cepat untuk membersihkan lahan untuk proses penanaman selanjutnya. Ia beralasan, meski sudah memperoleh imbauan dari pemerintah desa untuk tidak membakar limbah sisa hasil pertanian, tetapi ia masih tetap mempergunakan pola tebas bakar dengan harapan abu sisa pembakaran bisa jadi pupuk untuk penanaman tahap berikutnya.
“Kami memang masih menerapkan pola pembakaran pada limbah sisa panen. Untuk tebon jagung yang masih basah kerap kami gunakan untuk pakan ternak. Sementara daun kering selalu kami bakar,” ungkap Somad warga Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang, salah satu petani jagung yang membersihkan lahannya setelah proses pemanenan, Selasa (23/8/2017).
Proses pembakaran dengan pengawasan tersebut, diakui Somad, sejak pasca panen jagung karena khawatir dengan datangnya musim kemarau. Bisa terjadi kebakaran tidak sengaja akibat ulah orang iseng membuang puntung rokok. Pembersihan dengan pembakaran dilakukannya dengan pola perun atau mengumpulkan sisa limbah pada lokasi khusus untuk menghindari proses pembakaran merembet ke tanaman lain yang masih dipertahankan di antaranya pisang tanduk, janten dan pisang jenis lain.
Pada lahan jagung seluas satu hektar tersebut ia mengaku menghasilkan sebanyak 7 ton jagung. Jumlah ini menyusut dibandingkan masa tanam sebelumnya yang bisa mencapai 8 ton akibat imbas musim kemarau. Pasca pembersihan lahan dengan pembakaran tersebut dirinya bahkan mengaku tidak akan melakukan penanaman jagung untuk jangka tiga bulan ke depan. Datangnya musim kemarau juga berimbas petani jagung tidak berani melakukan proses penanaman jagung sebelum musim hujan tiba.
Proses pembersihan lahan dengan sistem tebas bakar juga dilakukan pada lahan tanaman padi di wilayah tersebut untuk memudahkan proses pembersihan sawah. Jerami sisa panen padi juga langsung dijemur dan dibakar. Upaya menghindari polusi lingkungan akibat pembakaran limbah sisa hasil pertanian juga membuat aparat desa melakukan imbauan pemanfaatan sisa limbah hasil pertanian untuk sumber pakan ternak.
“Kami sudah lakukan imbauan tetapi tetap saja banyak yang masih memanfaatkan pola tebas bakar sehingga mengakibatkan sesak nafas. Terutama jika jerami dan tebon jagung dibakar dalam skala besar,” ungkap Widodo, salah satu aparat Desa Bangunrejo.
Meski demikian, imbauan limbah sisa hasil pertanian yang dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak mulai dilakukan oleh Mualim, warga Trans Banyuwangi, yang sengaja memanfaatkan limbah jerami padi untuk pakan ternak. Pemilik ternak sapi jenis Limousin sebanyak 5 ekor tersebut mengaku, selain proses pembersihan lahan pertanian bisa lebih cepat dirinya juga memperoleh sumber pakan. Ia mengaku, kerap kekurangan pakan meski semua limbah jerami di lahan sawahnya ada. Masih harus mencari jerami ke Kecamatan Penengahan menggunakan kendaraan bermotor.
Proses mencari jerami hingga ke wilayah lain diakuinya digunakan sebagai stok menjelang musim kemarau yang berimbas peternak seperti dirinya mengalami kesulitan mencari pakan hijauan. Beruntung ternak sapi jenis Limousin miliknya merupakan jenis ternak yang bisa diberi pakan dengan jerami kering dicampur dengan jerami basah.
“Saya memilih tidak membakar jerami. Bahkan saya kumpulkan sebagai bahan pakan ternak. Selain menjaga lingkungan tidak terpolusi asap juga bisa menjadi sumber penghasilan dengan beternak,” ungkapnya.
Pemanfaatan jerami serta limbah hasil pertanian juga dilakukan oleh warga lain. Melakukan pola pemanfaatan lahan pertanian kelapa sawit dan ternak terintegrasi yang dikenal dengan sistem kelapa sawit dan sapi (Siskapi) sehingga limbah kelapa sawit berupa daun bisa dimanfaatkan sebagai pakan sapi. Ia juga berharap dengan adanya pemanfaatan limbah pertanian tanpa sistem tebas bakar masih bisa menjaga kebersihan udara di lingkungan setempat.
