Permintaan Pembiayaan Rumah Subsidi di Balikpapan Masih Tinggi

BALIKPAPAN – Laju pertumbuhan pembangunan rumah subsidi di Kalimantan Timur, sejalan dengan permintaan pembiayaan KPR rumah subsidi di sejumlah perbankan Kota Balikpapan. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk cabang Balikpapan menyebutkan, dalam satu bulan dapat menyelesaikan akad pembelian rumah subsidi sebanyak 120 kali.

Kepala Cabang BTN Balikpapan, Januardi mencatat, realisasi pembiayaan untuk KPR rumah subsidi senilai Rp99 miliar dan rumah komersil Rp84 miliar. Permintaan tertinggi terjadi pada pembelian perumahan subsidi karena masyarakat banyak beralih ke rumah subsidi, apalagi pengembang juga banyak melakukan pembangunan rumah subsidi.

“Backlog hunian saat ini masih tinggi, ditambah developer banyak mengubah segmen perumahan ke rumah subsidi. Area kami meliputi Balikpapan, Penajam dan Grogot,” jelasnya ketika ditanya realisasi pembiayaan untuk KPR, Selasa (29/8/2017).

Sedangkan target untuk pembiayaan KPR sepanjang tahun 2017 untuk rumah subsidi senilai Rp139 miliar dan komersil Rp270 miliar. “Untuk pembiayaan rumah komersil tercatat tumbuh lambat, yakni hanya sebesar 0,3% (Yoy) pada akhir Juli. Setiap bulannya akad kredit rumah komersil sekitar 15 unit hingga 20 unit,” sebut Januardi.

Sedangkan debitur berasal dari kalangan pegawai swasta, pegawai negeri sipil, dan pekerja pertambangan. Pada tahun-tahun sebelumnya, basis debitur didominasi oleh pekerja pertambangan.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Balikpapan, Edi Djuwadi mengaku, pembelian perumahan subsidi tinggi peminat dimana dalam satu bulan terdapat 300 permintaan pembelian. Dengan tingginya pembeli rumah subsidi, sebagian anggota beralih ke pembangunan rumah subsidi.

“Memang rumah subsidi sekarang lagi primadona dan banyak pembelinya. Saya saja dalam sebulan bisa 300 unit yang minta,” ungkapnya.

Ia memproyeksikan permintaan rumah subsidi hingga akhir tahun masih akan tumbuh, sedangkan permintaan rumah menengah ke atas tumbuh melambat. Meskipun saat ini perbaikan ekonomi daerah tengah berjalan.

“Ekonomi daerah perlahan pulih, tapi rumah subsidi tetap menjadi primadona diperkirakan sampai akhir tahun,” ujarnya.

Rumah bersubsidi. Foto: Ferry Cahyanti
Lihat juga...