Omset Penjualan Es Balok di Lampung, Turun
LAMPUNG — Dampak angin timur yang melanda wilayah perairan Lampung Selatan, berimbas terhadap permintaan es balok sebagai bahan untuk pendingin ikan atau proses pengawetan ikan laut selama nelayan mencari ikan menggunakan kapal serta bagan congkel.

Menurut Rudi, menurunnya permintaan es balok merupakan imbas dari nelayan yang tidak melaut, terutama pemilik kapal ukuran kecil, sementara kapal-kapal bagan berukuran besar melaut menggunakan boks pendingin. Beberapa kapal bagan berukuran besar tersebut terkadang memesan hingga lima balok es untuk kebutuhan melaut selama empat hari, dan perahu kecil membutuhkan maksimal dua balok es yang dipotong-potong menyesuaikan ukuran boks penyimpan ikan.
“Dampak cuaca buruk tentunya sangat saya rasakan sebagai penjual es balok, karena sedikit nelayan yang melaut, imbasnya permintaan es balok menurun hingga terkadang mencair, karena tidak ada pembeli”, terang Rudi, penjual es balok yang memiliki gudang penyimpanan khusus di tempat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni, Lampung Selatan, saat ditemui Senin (28/8/2017) sore.
Permintaan yang menurun terhadap es balok yang hanya mampu bertahan maksimal selama empat hari dalam ruang penyimpanan khusus tersebut, menyebabkan es balok mencair, sehingga dirinya merugi. Sebab, es balok tersebut didatangkan dari Cikande, Provinsi Banten. Rudi yang menekuni bisnis penjualan es balok selama hampir lima tahun mengaku memasok es balok dari pabrik es di Cikande memanfaatkan kendaraan L 300 yang mengangkut pisang dan kembali ke Lampung membawa es balok dengan ongkos sebesar Rp10 ribu perbalok dan dijual Rp32ribu untuk es balok berukuran satu meter, meski harga belinya sudah naik dari semula Rp13ribu menjadi Rp15ribu.

“Sebagian besar nelayan mengambil es balok dari saya secara berhutang dan akan dibayar setelah mereka mendapat hasil tangkapan dan menjual ikannya”, terang Rudi.
Pada masa normal, ia menyebut stok es sebanyak 80 balok berasal dari Cikande kerap kurang sehingga dirinya harus mendatangkan dari pabrik es lokal dengan selisih harga lebih murah, meski kualitasnya lebih rendah. Sebanyak 20 es balok yang dipesan dari pabrik es lokal tersebut diakuinya mudah mencair, sehingga nelayan baru membeli dalam kondisi stok di gudang milik Rudi kekurangan atau habis.
Saleh, nelayan penangkap teri dan ikan jenis lainnya, menyebut, tanpa memiliki mesin cold storage seperti pada kapal penangkap ikan modern, dirinya bergantung pada es balok. Pendinginan menggunakan es balok diperlukan untuk memperpanjang masa simpan ikan sebelum dijual atau diolah.
Penggunaan es balok tersebut diakui Saleh juga dianjurkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan untuk menghindari dan mengurangi praktek penggunaan bahan pengawet seperti formalin yang berimbas ikan tidak diterima oleh pasar.
“Ikan yang didinginkan masih segar dan harga jualnya masih tinggi dibandingkan menggunakan pengawet lain, sehingga kesehatan konsumen juga terjaga”, ungkap Saleh.
Saleh yang memiliki kapal bagan congkel tersebut, mengaku kerap memperoleh 100 kuintal lebih ikan teri, sehingga membutuhkan es balok dalam jumlah banyak. Ia berharap, kondisi tersebut bisa menjadi perhatian, dengan dibangunnya pabrik es di wilayah tersebut. Kebutuhan akan es balok tersebut menjadi kebutuhan vital nelayan tangkap perairan pantai Timur Lampung Selatan, meski sementara waktu tengah istirahat akibat cuaca buruk angin timur.