Meski Beredar Produk Printing, Bisnis Tenun Ikat Alami Sikka Terus Menggeliat
MAUMERE – Bisnis kain tenun ikat di Sikka terus menggeliat semenjak tenun ikat dari Provinsi NTT tersebut dikenakan Presiden Jokowi, mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, para menteri, pembawa acara Najwa Shihab, serta para presenter berita lainnya di televisi swasta.
Kepada Cendana News yang menemui di tempat berjualan di Pasar Alok Maumere, Selasa (22/8/2017) Tadeus Tara, salah seorang pebisnis tenun ikat Sikka dan beberapa daerah di Provinsi NTT menjelaskan, memang penjualan tenun ikat Sikka mulai berkembang dua tahun terakhir.
Hampir sebulan sekali, kata Tadeus, dirinya mengirim kain tenun ikat dalam jumlah banyak kepada para pembeli di Bali, Surabaya dan Jakarta yang memesan untuk dijual kembali.
“Memang banyak yang beli tapi kalau orang asing sering cari yang menggunakan pewarna alami bahkan yang menggunakan kapas asli, meski harganya mahal untuk ukuran orang kita,” ujarnya.
Meski demikian, Tadeus menyayangkan, banyak pedagang lokal yang membuat harga jual tenun ikat anjlok dengan menjual kain tenun Sikka berharga murah kepada para pembeli dari luar daerah.
“Banyak orang kita yang menjual kain tenun ikat di bawah harga normal, minimal 300 ribu rupiah selembar, sehingga kasihan para penenun tradisional kita yang sudah bersusah-payah menenun dan hanya dihargai murah,” sesalnya.
Tadeus juga berharap agar Pemda Sikka melalui Dinas Pariwisata dan Perindag Sikka bisa memfasilitasi penjual tenun ikat untuk berpameran di luar daerah agar kain tenun Sikka bisa lebih dikenal dan penjual bisa bertemu calon pembeli potensial.
“Saat ini banyak beredar kain motif tenun ikat menggunakan printing dan ini sangat disayangkan serta bisa mematikan mata pencaharian para penenun di kampung-kampung sehingga pemerintah harus tegas. Sebab ini menyangkut kekayaan seni budaya kita di NTT,” tandasnya.
Rosvita Rensiana, Ketua Sanggar Watu Bo, Desa Watublapi Kecamatan Hewokloang kepada Cendana News mengaku, sanggarnya lebih mengembangkan kain tenun ikat yang menggunakan pewarna alami dan berbahan baku kapas karena sudah memiliki pasar yang jelas.

Rensiana juga menyayangkan, banyak beredar kain dengan motif tenun ikat dari NTT termasuk Sikka yang diprinting sehingga berpotensi mematikan bisnis tenun ikat dan terkesan tidak menghargai seni budaya daerah NTT.
“Kita harus memulai dari diri kita, kalau kita tidak memakainya orang lain tidak mungkin tahu sebab budaya yang kita miliki kita sendiri yang mempromosikan. Jangan orang lain,” pintanya.
Di Sanggar Watu Bo, terang Rensiana, selembar kain tenun berbahan dan pewarna alami dengan panjang 3 meter dan lebar 85 sentimeter dijual seharga 1,7 juta rupiah, memiliki desain dan warna yang sempurna.
“Sudah 2 tahun terakhir kami berpameran di Jakarta bekerjasama dengan Noisa yang memasarkan produk kami. Sebab kelompok kami merupakan binaan dari Dinas Perindag Sikka,” pungkasnya.