Menkes Peringati Asean Dengue Day Bersama Anak SD
JAKARTA – Asean Dengue Day (ADD) 2017 atau hari Deman Berdarah se-Asean dirayakan dengan kampanye di sejumlah sekolah. Menteri Kesehatan, Nila F, Moeloek, langsung terjun ke SDN Baru 07 Cijantung, Komplek Kopassus, Jakarta Timur, yang merupakan sekolah paling aktif memberantas jentik nyamuk.
Pada kunjunganya itu, Nila disambut keceriaan para siswa SDN 07 dari mulai gerbang pintu masuk hingga bersinggah duduk di pelataran tenda megah berbalut warna putih biru muda. Keakraban terlihat, manakala Nila bersama Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, H.M.Subuh, dan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, bersama puluhan siswa SDN 07 yang menggunakan kaos bertuliskan ‘1 Rumah 1 Jumantik’, bernyanyi sambil berdendang melantunkan lagu mars ‘Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik’ dan ‘Sirih Kuning’.
Keceriaan di antara mereka tampak terlihat, dan riuh tepuk tanganpun tak terbendung, menambah kehangatan puncak perayaan Asean Dengue Day (ADD) yang diperingati setiap 15 Juni sebagai bukti komitmen mengendalikan demam berdarah di seluruh lintas sektor masyarakat.
Namun, dikarenakan tanggal 15 Juni bertepatan dengan bulan puasa, maka peringatan ADD 2017 digelar pada Rabu, 2 Agustus 2017, dipusatkan di SDN 07 Jakarta Timur, mengingat kalangan anak pelajar merupakan angka penderita DBD paling tinggi.
Pada perayaan ini, Nila pun mengajak siswa sambil melakukan dialog seputar DBD. Saat Nila melihat seorang siswa bermain gadget dan mengambil gambar dirinya yang sedang berada di atas panggung, Nila pun terlihat gemas, dan langsung berkata, “Dik, sini kamu naik ke panggung, ngobrol saya tanya soal DBD. Jangan main gadget dulu nanti matanya sakit,” ujar Nila tersenyum dan melambaikan tangannya.
Lucunya lagi, siswa itu mengaku sebagai anak dokter. Dan, bertanya pada sang menteri, “Ibu saya dokter, ibu kenal Bu Ade, nggak ibu saya?” katanya disambut gelak tawa penonton yang hadir, begitu pula Nila.
Nila pun menjawab, “Oh.. Ibu kamu dokter? Salam ya, buat Ibu kamu,” ujar Nila sambil mengusap rambut dia.
Nila melanjutkan dengan bertanya kepada para siswa bagaimana mencegah jentik nyamuk dengan sederhana. Siswa dengan sigap menjawab caranya dengan membuat jebakan nyamuk atau Lavitrap. Nila juga menjelaskan bagaimana nyamuk sekecil itu bisa berakibat fatal hingga meninggal dunia.
“Dengan Lavitrap, Bu, nyamuk pasti tertangkap. Buat lavitrap itu mudah kok, pakai botol bekas aqua,” jawab seorang siswa. “Iya, kamu pintar,” jawab Nila.
Nila pun bertanya lagi, “Nyamuk kasih apa ke tubuh kita?”
“Kasih virus, Bu,” jawab seorang siswi berhijab.
Nila pun membenarkan, bahwa walaupun kecil sekali ambil darah manusia tidak banyak, tapi nyamuk kasih hadiah, yaitu virus. “Virus menyebar ke tubuh meski minum obat belum tentu hilang. Bisa sampai kematian. Siapa saja digigit semua orang termasuk Pak Presiden bisa digigit nyamuk,” ujar Nila.
Dirinya juga meminta siswa untuk selalu membersihkan rumah dan lingkungan sekolahnya. Selain itu, gerakan 3M (Menutup, Menguras, dan Mengubur) hingga menanam tanaman yang dibenci nyamuk juga efektif.
“Bunga tai kotok ayam itu bisa ditanam, bau soalnya dan nyamuk nggak suka. Lalu, lavender serta sereh. Memang ini tantangan, karena Indonesia adalah negara tropis,” kata Nila.
Nila mengingatkan, masyarakat yang hadir termasuk anak-anak untuk menjaga kebersihan lingkungan, guna mencegah terjadinya penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Menurut Nila, nyamuk ini memang masalah yang luar biasa, apalagi negara Indonesia ini negara tropis. Kita harus menyadari nyamuk ini bukan main-main dan bisa menyebabkan kerugian yang begitu besarnya, bahkan kematian.
Nila juga menekankan, bahwa kebersihan merupakan hal utama dalam memberantas penyakit, termasuk dalam mencegah DBD. Namun, dia menyadari perlu dilakukan edukasi yang terus-menerus kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Nila mencontohkan, negara Singapura yang memiliki kebijakan untuk memberikan sanksi kepada warganya bila dalam satu rumah terdapat jentik nyamuk walau hanya satu ekor. Tetapi, Nila memaklumi, bahwa kebijakan tersebut belum bisa diterapkan di Indonesia.
“Di Singapura satu rumah jika ada jentik, itu dapat hukuman. Kalau itu dilakukan di sini, waduh, bisa-bisa Kemenkes dapat banyak uang. Saya kira memang masih sulit, tapi mau tidak mau kita harus dorong,” ungkap Nila.
Pada kesempatAn ini, Nila juga mencontohkan perilaku hidup bersih yang diajarkan dalam agama, khususnya Islam, yakni harus mengambil air wudhu untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan shalat. “Berwudhu sebanyak lima kali dalam sehari juga tidak akan cukup bila masyarakat tidak menjaga kebersihan rumah,” ujarnya.
Dalam upaya ini, Kemenkes juga memiliki program 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang sudah dijalankan sejak 2015, di mana anggota masyarakat dilatih untuk memantau jentik nyamuk di setiap rumah. Nila berharap sosialisasi acara ASEAN Dengue Day di sekolah juga diharapkan setiap siswa bisa menjadi siswa Jumantik untuk pengendalian DBD di rumah masing-masing.
Usai acara, Nila beserta rombongan mengunjungi stand kesehatan yang ditampilkan beberapa Puskesmas se-DKI.