MAKASSAR — Matahari masih ada di puncaknya, ketika saya menepi ke daerah pinggiran Kota Makassar, tepatnya Desa Lantebung, Kelurahan Bira, Kecamatan Talamanrea. Di tempat ini terdapat konservasi pohon magrove yang sangat mempesona. Sebuah dermaga sepanjang 160 meter ke arah timur dari pintu masuk seolah menanti saya atau siapa pun yang berkunjung.
Di ujung dermaga pengunjung telah disediakan sebuah pondok untuk beristirahat atau menaruh barang. Sekitar dermaga tampak puluhan pohon bakau atau magrove yang usianya sudah hampir 10 tahun. Dan bila mata menatap ke ujung dermaga terdapat puluhan bibit pohon mangrove yang baru beberapa bulan ditanam.
Menurut Bachtiar seorang warga yang telah lama bermukim di Desa Lantebung pemandangan sekarang ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan yang dulu.
“Masyarakat dulu yang semuanya bekerja sebagai nelayan sering menebang magrove untuk dijadikan kayu bakar untuk pembuatan batu merah,” jelas Bachtiar pada Cendana News di kediamannya.
Awalnya Desa Lantebung sangatlah tandus, namun setelah adanya sosiallisasi oleh DKP (Dinas Kelautan Dan Perikanan) tentang manfaat magrove. Akhirnya masyarakat desa Lantebung mau ikut melestarikan mangrove dan menanam serta merawat mangrove. Tidak hanya itu tempat ini juga dijadikan tempat wisata hutan mangrove.
Selain sebagai tempat wisata hutan mangrove, tempat ini juga sebagai tempat konservasi tanaman mangrove. Setiap bulannya selalu ada kunjungan mahasiswa dari universitas di Makassar. Mereka mendatangi tempat ini sebagai tempat penelitian.
Bachtiar juga menambahkan dengan adanya konservasi mangrove di Desa Lantebung ini menjadi daya tarik tersendiri. Setidaknya jika orang menyebut Lantebung orang akan ingat dengan konservasi mangrovenya.
“Tidak hanya para mahasiswa saja yang datang ke sini, namun juga beberapa tokoh-tokoh penting di Sulawesi Selatan pernah datang ke Lantebung ini,” ungkap Bachtiar.
Awalnya desa ini memperoleh bibit magrove dari Kabupaten Sinjai sebanyak 20.000 bibit. Namun, setelah melalui satu periode pertumbuhan mangrove, Desa Lantebung ini akhirnya bisa menghasilkan bibit sendiri. Bahkan terkadang bibit mangrove ini dijual ke daerah lain yang ada di Sulawesi Selatan.
Masyarakat di daerah ini menjadi lebih terbuka wawasannya dalam pengolahan mangrove. Bachtiar menceritakan ada salah satu warga di sini membuat kue dan sirup dari sari pati mangrove.
“Pengelolaan mangrove dengan membuat kue lebih baik dari pada membabatnya sampai habis dan tidak tersisa,” katanya.
Menurut Bachtiar pemeruntah sudah sangat memperhatikan pemerintah dalam pelestarian mangrove. Hal ini ditunjang dari kunjungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar hingga sejumlah LSM pemerhati lingkungan.
Rahma Purnama Sari yang karib disapa Rara yang merupakan Ketua KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau) Sulawesi Selatan ini menyebut pelestarian tanaman mangrove sangatlah penting. Keberadaan mangrove ini mengingatkan kaum muda seperti dirinya bahwa mereka adalah agent of change untuk menjaga lingkungan.
” Walaupun hal itu tidak berdampak langsung pada diri kita sendiri dan hanya berdampak pada warga sekitar. Akan tetapi, kaum muda harusnya bisa memberi kontribusi mengingat fungsi tanaman mangrove sangat banyak,” ajaknya.
Rara juga menambahkan bahwa salah satu usaha kaum muda dalam melestarikan tanaman mangrove, dengan cara memberikan edukasi pembibitan, penyuluhan, serta pemeliharaan tanaman mangrove dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Banyak fungsi dari tanaman mangrove contohnya saja sebagai habitat satwa langka, perlindungan terhadap bencana alam, pengendap lumpur dan penambah zat hara, penambat racun dan masih banyak lagi,” tutup Rara.
