Durasim Pendekar Ludruk Pukau Anjungan Jawa Tengah TMII
JAKARTA — Gelar seni budaya ini suguhan para seniman Jawa Timur yang bergabung dalam Komunitas Ludruk Jakarta (KLJ) dengan Ketuanya Andreas Eno Tirtakusumo.
Lakon “Durasim Pendekar Ludruk” ini disutradarai Cak Tatok “Koplak” Pranadi yang juga tim kreatif Cak Lontong. Adapun peneran Durasim yaitu Cak Lupus, yang juga pelawak ludruk.
Lakon ini mengisahkan Cak Durasim sebagai pahlawan pribumi melawan tentara Jepang menjajah Indonesia dengan bengis dan keji menyiksa rakyat, dan memberlakukan kerja paksa atau romusa. Rakyat yang menentangnya akan dibunuh dengan keji oleh tentara Jepang. Pada gelaran ludruk ini, komandan tentara Jepang diperankan oleh Polo.
Durasim yang berangkat dari seorang seniman tradisional menjadi sangat prihatin akan penderitaan yang dialami rakyat Indonesia akan kekejaman tentara Jepang. Orang tua Durasim pun merestui perjuangan Durasim melawan dan mengusir tentara Jepang.
Durasim pun melakukan perlawanan melalui kesenian di Surabaya. Dia membentuk perkumpulan kesenian ludruk, Melalui lakon dan cerita yang dimainkan Durasim mulai membakar dan mengobarkan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.
Ternyata, ada seorang pengkhianat yang melaporkan kepada tentara Jepang, bahwa Durasim secara diam-diam telah membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang.
Akibatnya, Durasim pun ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian orang) dan dicari dengan menempuh segala cara untuk menangkap Durasim. Meski cerita bersejarah ini dimainkan serius namun dalam berbagai adegannya disisipkan selingan humor sebagai kekhasan ludruk.
Mengapa bertajuk “Durasim Pendekara Ludruk”? Ketua KLJ, Andreas mengatakan, pementasan ini untuk mengingat meninggalnya Cak Durasim yang dibunuh oleh tentara Jepang pada 7 Agustus zaman penjajahan Jepang dulu.
Ludruk ini mengemas lakon perjuangan serta menampilkan kritikan yang diselingi juga dengan komedi sebagai hiburan rakyat.
“Cak Durasim itu wafat tanggal 7 Agustus, dan kalau kepercayaan Jawa lewat pukul 15.00 sore itu sudah masuk hari berikutnya. Makanya, hari ini Sabtu, 6 Agustus kita juga adakan Deklarasi Komunitas Ludruk Jakarta untuk mengenang Cak Durasim dan melanjutkan perjuangan melestarikan kesenian ludruk,” ungkap Eno.
Dirinya menjelaskan, Cak Durasim adalah pahlawan yang mengobarkan semangat rakyat di Surabaya untuk melawan penjajah, seperti halnya Bung Tomo.
Cak Durasim berjuang melalui kesenian ludruk di Surabaya saat itu untuk mengusir Jepang sebagai penjajah Indonesia. Cak Durasim tewas karena disiksa dan dibunuh secara kejam dalam penjara oleh tentara Nipon Jepang secara sadis dan bengis.
Saat itu, kata Eno, Cak Durasim sempat mengobarkan nyanian ‘Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Tambah Sengsoro. “Mestinya Cak Durasim layak menjadi Pahlawan, tapi hingga kini tidak pernah diajukan ke pemerintah. Makam Cak Durasim di Pemakaman Umum Tembok, Surabaya,” kata Eno.
Gelaran Ludruk ini juga dimeriahkan artis Srimulat dengan pesohornya Tessy, Nurbuat, Tarzan, Isa Ngalntur, Memed Mini,Ninik Chandra, Cak Bagong, Polo, Toni Gempil, Agus Pengampon, penyanyi si “Raja Minggat” Sonny Joss, dan masih banyak lagi.
Antusias penonton pun terlihat riuh memenuhi anjungan Jawa Timur. Sebagian dari mereka tidak hanya warga Jawa Timur yang tinggal di Jabodetabek tapi juga warga luar Jawa Timur yang memang sangat menyukai seni ludruk ini.