Darmin: Konsumsi Tinggi Harusnya Tidak Melemahkan Daya Beli

JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menkoperekonomian) Darmin Nasution saat ditanya wartawan di kantornya mengaku bahwa perkembangan pertumbuhan perekonomian Indonesia sepanjang Kuartal II Tahun 2017 (April-Juni) tersebut dinilai masih sangat baik.

Darmin bersyukur bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II ternyata masih mampu tumbuh di angka 5,01 persen. Namun meskipun demikian, sebenarnya pertumbuhannya masih sedikit di bawah prediksi atau harapan Pemerintah dan pelaku dunia usaha secara umum.

Perkembangan pertumbuhan perekonomian Indonesia sebesar 5,01 persen tersebut secara resmi telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat.

Menurut Kepala BPS Pusat Suhariyanto mengumumkan bahw pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen tersebut termasuk paling tinggi di dunia atau hanya kalah dari Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang masih mampu tumbuh sekitar 6,9 persen.

Darmin menjelaskan memang harus diakui bahwa pencapaian pertumbuhan perekonomian Indonesia sebesar 5,01 persen tersebut ternyata masih di bawah harapan atau prediksi yaitu sebesar 5,1 persen.

Namun Dirinya tetap optimis bahwa pertumbuhan perekonomian Indonesia selanjutnya diperkirakan masih bisa tumbuh antara 5,1 atau 5,2 persen.

Menurut Darmin Nasution jika dilihat berdasarkan pertumbuhan ekonomi sebenarnya yang pertama adalah dipengaruhi faktor investasi yang mulai sedikit menurun pertumbuhannya, memang melambat tapi masih tumbuh.

Konsumsi masih berada di kisaran 4,95 persen, namun jika dibandingkan dengan Quartal to Quartal (Q to Q) ternyata masih sedikit lebih baik daripada kuartal sebelumnya.

“Kalau dilihat berdasarkan angka pengeluaran atau konsumsi masyarakat, sebenarnya bisa dibilang masih tinggi atau berada di angka 4,95 persen. Memang seharusnya normalnya kan mestinya bisa mencapai 5 persen atau paling tidak sedikit di atas 5 persen. Dengan demikian hal tersebut sebenarnya tidak mengkonfirmasikan terjadinya pelemahan daya beli,” jelas Darmin kepada wartawan di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Biasanya pada saat Lebaran Hari Raya Idul Fitri 2017, sebelum H-10 hampir sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung menahan atau menyimpan uangnya, karena mereka mau pulang atau mau berbelanja di kampung halamannya.

“Perilaku seperti ini mungkin supaya kelihatan keren, itu wajar dan normal. Namun hal tersebut justru memicu terjadinya peningkatan konsumsi belanja masyarakat sangat tinggi dan dalam waktu bersamaan,” tutup Darmin Nasution.

Lihat juga...