Arisan untuk Investasi Ternak Sapi, Solusi Jitu Warga Ketapang

LAMPUNG — Bermula dari keinginan warga Desa Sri Pendowo Kecamatan Ketapang Lampung Selatan untuk memiliki ternak sapi. Sekitar sepuluh warga di desa tersebut mencari cara untuk pembiayaan pembelian ternak melalui arisan yang disebut dengan arisan sapi.

Arisan sapi dengan anggota sepuluh orang mulai berjalan  pada 1998. Masing masing Rp500 ribu dan terkumpul Rp5 juta bisa dipergunakan untuk membeli sepasang sapi jantan dan betina untuk bibit atau indukan.

Arisan setiap bulan tersebut membuat seluruh anggota arisan akhirnya masing-masing memiliki sepasang sapi.  Di antara mereka ada yang mempunyai sapi telah beranak pinak. Demikian kenang Turipto (55) menceritakan awal mulanya memiliki ternak sapi.

Setelah beberapa tahun arisan tidak dilanjutkan seiring dengan sebagian warga yang sudah mampu membeli sapi untuk diternakkan sebagai sapi penggemukan dan sapi pembibitan. Salah seorang peserta arisan, Turipto  mengungkapkan dirinya dan sebagian petani sudah memiliki 10-15 ekor sapi jantan dan betina.  Sebagian petani sudah menghasilkan uang setelah dijual.

“Awalnya karena keterbatasan kami sebagai petani membuat susah membeli sapi. Arisan jadi solusi untuk kepemilikan sapi. Kini sebagian sudah bisa mengembangkan ternak sapi dan menjual ke luar daerah,” ungkap Turipto saat ditemui Cendana News, Senin (7/8/2017).

Hingga 2017 saat bakalan atau bibit sapi jenis Limosin dan Simental yang dijual dengan harga Rp12 juta hingga Rp13 juta per ekor Turipto sudah memiliki sebanyak 18 ekor ternak sapi jenis Simental dan Limosin 14 ekor sapi betina sebagai indukan dan sebanyak 4 ekor sapi jantan sebagai pejantan.Sebagai investasi dengan rata rata harga per ekor Rp10 juta saja dirinya telah berinvestasi senilai nyaris Rp200 juta.

Turipto mengaku tanpa adanya ide arisan ternak dirinya mengaku tak pernah memiliki sapi karena saat itu ia  harus membiayai sekolah anaknya.  Sementara setelah dirinya beternak sapi sebagian biaya kuliah dan sekolah anak termasuk membeli tanah dan kendaraan berasal dari hasil penjualan ternak sapi miliknya.

Beberapa ekor sapi yang diternak olehnya bahkan sudah memasuki masa kehamilan dan akan beranak menambah jumlah ternak sapi yang dimilikinya.

Kebutuhan pakan ternak sapi yang dimiliki Turipto semula dipasok dari hijauan berupa rumput gajahan dan rumput hasil mencari di kebun. Namun seiring keberadaan beberapa tempat produksi jenjet atau tongkol sisa pemitilan jagung diolah menjadi pakan dengan campuran dedak, tetes tebu dan cacahan tebon jagung dirinya tak lagi kesulitan mencari pakan.

Sebagai upaya mengembangkan usaha bidang peternakan dirinya bahkan berniat melakukan perluasan kandang setelah kapasitas kandang ternak sapi miliknya mulai terbatas.

Bulan besar dikenal oleh orang suku Jawa atau hari raya Idul Adha atau hari raya Kurban dengan ternak sapi sebagai kurban bahkan memberi dampak positif bagi usaha ternak sapi. Setiap tahun rata rata dijual sebanyak 2-3 ekor sapi usia 2,5 tahun untuk kurban.

Setiap tahun Turipto berhasil menjual sebanyak 3 ekor sapi dengan harga kisaran Rp18juta perekor bahkan satu ekor sapi untuk kurban pernah dijualnya seharga Rp25juta dengan kondisi sapi cukup gemuk.

“Tahun ini sudah tiga ekor dipesan untuk kurban oleh tiga keluarga dan akan diambil saat mendekati hari raya kurban sehingga milik saya tersisa lima belas ekor,” terang Turipto.

Seperti tahun sebelumnya selain memasok kebutuhan sapi untuk kurban dari berbagai kecamatan di Lamsel dirinya bahkan menerima pesanan dari Kabupaten Tanggamus dan Lampung Timur.

Menjelang hari raya kurban permintaan akan ternak sapi diakui meningkat meski dirinya hanya menjual sapi yang memenuhi standar untuk kurban dan sebagian dijual untuk kebutuhan rumah potong hewan.

Memiliki sapi dengan cara arisan juga dialami oleh salah satu warga Desa Sri Pendowo lain bernama Marwanto (40) yang kini memiliki sebanyak 15 ekor sapi jenis limosin sebanyak 8 ekor dan sebanyak 7 ekor jenis Simental dengan pola beternak khusus untuk pembibitan.

Berbeda dengan Turipto tetangganya yang beternak sapi untuk dijual sebagai bakalan,sapi potong Marwanto secara khusus hanya menjual bibit sapi usia 7 bulan hingga satu tahun sebagai bagian investasi.

Marwanto yang memiliki kandang ukuran 10 x 15 meter tersebut bahkan kini mulai melakukan penanaman rumput gajahan sebagai sumber pakan untuk perkembangan ternak sapi yang dikembangkannya.

Memiliki pekerjaan sambilan sebagai pedagang sayur ia menyebut beternak sapi merupakan investasi termudah warga pedesaan dengan ketersediaan sumber pakan hijauan melimpah.

“Alam menyediakan pakan tinggal kreatifitas kita memanfaatkan lahan dan menggunakan modal tenaga, uang untuk investasi salah satunya beternak sapi,” ungkapnya.

Stok kebutuhan pakan ternak sapi dari jenjet jagung /Foto: Henk Widi.

Omzet puluhan juta bahkan diperolehnya dari penjualan bakalan sapi.  Harga per ekor mencapai Rp15 juta dan sapi jantan yang dijadikan sapi potong dikirim hingga luar kabupaten. Dirinya mengaku sudah tak lagi mengikuti arisan sapi karena telah mampu menghasilkan bibit sapi untuk dijual dan dijadikan indukan.

Sebagian besar sapi yang diternaknya diakui merupakan upaya investasi untuk kebutuhan anak-anaknya kuliah dan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji.

 

Sang anak membantu merawat ternak milik Turipto di kandang /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...