Anak Anak Pulau Terluar Ikut Rayakan HUT RI Ke-72 Bersama Perahu Pustaka

LAMPUNG  — Anak anak pulau terluar Lampung Selatan di antaranya Pulau Rimau Balak ikut merayakan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-72. Mereka rela harus menyeberangi laut untuk mengikuti upacara bendera di Pulau Sumatera.

Andi, Salah satu siswa yang berasal dari Pulau Rimau Balak, bersekolah di SMA Bakauheni. Remaja yang harus tinggal kos mengaku setelah mengikuti upacara bendera di Bakauheni kembali pulang  ke rumahnya di Kampung Peritaan menggunakan perahu milik Perahu Pustaka Bakauheni Lampung.

Peduli pada anak anak di pulau terluar relawan literasi Perahu Pustaka pada peringatan HUT RI ke-72 ikut memberikan dukungan bagi anak anak di Pulau Rimau Balak dengan memberikan keperluan sekolah berupa buku dan alat tulis.

Menurut Radmiadi selaku penggagas Perahu Pustaka kepedulian sudah ditunjukan dengan memberikan buku buku kepada anak anak di pulau terluar yang ada di dekat Pulau Sumatera.

“Meski sudah puluhan tahun merdeka di beberapa pulau terluar masih banyak siswa siswa sekolah yang masih belum mendapatkan akses pendidikan yang baik meski semua generasi muda membutuhkan akses pendidikan yang baik,” terang Radmiadi kepada Cendana News di sela acara peringatan HUT RI Ke-72 di Pulau Rimau Balak, Kamis (17/8/2017).

Selain memberikan kepedulian kepada siswa sekolah pada peringatan HUT RI ke-72 Radmiadi dan Ardyanto menyebut sebelumnya sudah mengunjungi Pulau Rimau Balak dan memberikan bantuan alat alat tulis yang berguna untuk anak anak di pulau. Ardyanto sebagai relawan perahu pustaka bahkan mengaku memberikan bantuan berbagai alat tulis yang menjadi semangat bagi anak anak di pulau terluar dan diberikan pada (10/8) lalu.

Satu satunya siswa sekolah yang setiap hari menempuh perjalanan mengarungi laut hanya untuk bersekolah di Sekolah Menengah Pertama di di Way Apus Bakauheni Lampung Selatan adalah Edi Sahiri (13). Setelah dia  lulus dari kelas 6 SDN 5 Sumur Kecamatan Ketapang akhirnya memilih bersekolah di daratan Pulau Sumatera.

Keinginan salah satu siswa SMP yang baru duduk di kelas VII tersebut terbilang cukup tinggi karena seperti umumnya anak anak Pulau Rimau Balak setelah lulus dari SD langsung melanjutkan sekolah dengan cara kos serta tinggal di daratan Sumatera.

Sebagian besar bahkan menurut Sodian salah satu warga di Dusun Gusung Berak siswa memilih tidak melanjutkan sekolah dan memilih bekerja membantu orangtua sebagai nelayan atau berkebun.

Biaya yang mahal dan jarak yang jauh antrara Pulau Rimau Balak dan Pulau Sumatera menjadi faktor angka putus sekolah cukup tinggi bahkan bagi siswa wanita sebagian bekerja ke wilayah Serang sebagai asisten rumah tangga dan sejumlah rumah makan.

“Sebagian siswa setelah lulus SD selanjutnya justru tidak melanjutkan sekolah jenjang SMP dan malah memilih bekerja di Pulau Jawa untuk membantu orangtuanya meski sebagian melanjutkan sekolah dan memilih kos,” terang Sodian.

Ardyanto (paling kiri) dan Radmiadi (berompi) memberikan buku pada anak sekolah asal Pulau Rimau Balak pada HUT RI Ke-72 /Foto: Henk Widi.
Edi Suhairi satu siswa SMP dari Pulau Rimau Balak yang berangkat ke sekolah menggunakan perahu ke Pulau Sumatera /Foto: Henk Widi.

Edi Suhairi yang merupakan salah satu anak dari nelayan sekaligus pembuat perahu dari pasangan Maman (40) dan Suhaeti (33). Dia memilih bersekolah di daratan Pulau Sumatera akibat tidak adanya sekolah tingkat SMP di pulau tersebut.

Sang Ayah  mendukung, karena ia menginginkan anaknya lebih maju dari dirinya yang hanya lulusan SD. Dukungan tersebut bahkan diberikan dengan mengantar anak untuk mendaftar di salah SMP Negeri di Kecamatan Bakauheni. Namun akibat kuota terbatas jumlah siswa terpaksa anaknya memilih bersekolah di salah satu sekolah swasta.

Sebagai salah satu warga Pulau Rimau Balak yang saat ini berjumlah sekitar 80 kepala keluarga, Maman menyebut dengan menyekolahkan anaknya di Pulau Sumatera memberinya konsekuensi untuk mengantarkan sang anak setiap hari berangkat sekolah dengan perahu.

Ia menyebut karena baru lulus SD dan masuk SMP pada tahun ajaran baru sekolah ia belum tega membiarkan anaknya kos atau tinggal di dekat sekolah ditambah saat ini sang anak masih sekolah masuk siang dan pulang sore hari.

“Kalau sudah lulus SMP mungkin saya akan koskan anak saya untuk jenjang SMA namun saat ini dia masih ingin pulang pergi meski harus menyeberang laut,” ungkap Maman.

Edi Suhairi yang sempat dijumpai Cendana News mengaku selama beberapa pekan terakhir pada tahun ajaran baru 2017/2018 dirinya masih masuk siang akibat keterbatasan ruang kelas di SMP Swasta Way Apus.

Perjalanan ke sekolah diakui Edi membutuhkan perjalanan laut dan darat sehingga ia yang masuk sekolah pada pukul 13.00 WIB harus sudah berangkat dari rumah sejak pukul 12.00 WIB dengan cara menggunakan jasa ojek motor sesampainya Dermaga Muara Piluk Bakauheni.

“Kalau ayah sedang sibuk membuat perahu atau melaut saya terkadang mengojek perahu dari Pulau Rimau Balak menuju Bakauheni bersama warga yang akan berangkat ke pasar,” ungkap Edi.

Keinginan untuk sekolah diakui Edi cukup menggebu setelah ia melihat kawan kawan di pulau Rimau Balak seusai lulus SD sebagian besar putus sekolah dan bekerja sementara dirinya ingin bercita cita menjadi pelaut yang bekerja di kapal roll on roll off di lintasan Selat Sunda.

Keinginan yang besar untuk bekerja di kapal tersebut juga didorong dengan setiap hari dirinya melihat kapal berukuran besar yang melintas di Selat Sunda sementara hanya sedikit masyarakat di wilayah tersebut yang bekerja di kapal. Setelah lulus SMP ia mengaku berniat bersekolah di salah satu sekolah STM pelayaran di Kecamatan Ketapang.

“Selagi masih kelas satu SMP saya pulang pergi berangkat sekolah menggunakan perahu nanti kalau sudah SMA mungkin saya akan kos,” ungkap Edi.

Sebagai anak nelayan bahkan tinggal di Pulau Rimau Balak yang jauh dari Pulau Sumatera dirinya memiliki keinginan untuk meningkatkan derajat hidup keluarganya meski dirinya mengaku bangga menjadi anak pulau.

Saat ini ia bahkan menyebut menjadi satu satunya anak nelayan tingkat SMP yang bersekolah dengan cara pulang pergi menggunakan perahu dari Pulau Rimau Balak ke Pulau Sumatera.