Sebelum Meninggal, Istri Pahlawan Nasional Diabaikan 3 Rumah Sakit
YOGYAKARTA — Istri Pahlawan Nasional Indonesia, alm Prof Ir Herman Johannes, yakni Anna Marie Gilbertine Johannes menginggal dunia pada Rabu (12/07/2017) sekitar pukul 19:00 WIB. Jenazah meninggal di usia 90 tahun karena penyakit tua. Saat ini jenazah disemayamkan di Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta (PUKJ), Senopakis, Jalan Wates, Bantul.
Ditemui di Rumah duka, Jalan Kaliurang, Gang Pandega Duta, Sleman, Yogyakarta, Kamis (13/07/2017), putri kedua almarhum, Heni Meka Johannes, didampingi suaminya Robi Meka, mengatakan sebelum meninggal, almarhum sempat dibawa ke beberapa rumah sakit. Banyaknya antrian, membuat pihak keluarga sempat harus menunggu lama dan berpindah hingga 3 rumah sakit
“Sempat ke RS Bethesda, lalu ke RS Sardjito, tapi disarankan ke RS Pantirapih karena penuh. Sampai akhirnya kembali ke RS Sardjito. Di sana pun kita juga menunggu lama. Karena memang kita tidak bilang kalau almarhum merupakan istri dari bapak,” kata Heni, Kamis siang.
Selain merupakan Pahlawan Nasional peraih penghargaan bintang gerilya dan bintang mahaputra, Prof Ir Herman Johannes juga merupakan rektor UGM tahun 1961-1966 serta termasuk salah seorang pendiri RS dr Sardjito. Berkat jasanya, nama Prof Ir Herman Johannes juga diabadikan sebagai salah satu nama Jalan di kota Yogyakarta.
Menurut Heni, alm Anna Marie Gilbertine Johannes sendiri memang mengalami sakit degeneratif atau penurunan fungsi tubuh karena penuaan. Meninggalkan 4 putra, 6 cucu serta 1 cicit, almarhum dikenal sebagai sosok yang enerjik saat masih muda. Ia juga dikenal ramah serta penuh senyum oleh teman maupun kerabatnya.
“Yang paling berkesan mungkin beliau melahirkan saya tepat saat hari ulang tahunnya ke 30. Dan kemarin saat saya ulang tahun ke 60, beliau ulangtahun ke 90. Itu hadiah luarbiasa,” katanya.
Rencananya, jenazah alm sendiri akan dimakamkan di sebelah makam Alm Prof Ir Herman Johannes di Makam Sawitsari UGM pada Senin depan mendatang. Hal itu dikarenakan pihak keluarga masih menungu anak-anak lainnya yang Salah satunya berada di Amerika Serikat untuk datang ke Yogyakarta.
“Beliau tidak pernah berpesan apa-apa melalui kata-kata. Namun mencontohkan melalui sikapnya. Beliau sosok yang sangat disiplin, taat beribadah dan kuat imannya,” pungkasnya.