Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Warga Manfaatkan Air Hujan
LAMPUNG – Berada di lokasi ketinggian dengan akses air bersih yang sulit untuk kebutuhan hidup sehari-hari untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus dialami oleh warga Dusun Trans Cilacap Desa Karangsari Kecamatan Ketapang.
Situasi tersebut membuat warga masih memanfaatkan air hujan yang disimpan dalam bak bak penampung khusus untuk menyimpan air hujan. Suyati (45) warga Dusun Trans Cilacap menyebut pemanfaatan air hujan banyak dilakukan oleh warga di wilayah tersebut akibat sebagian warga tidak memiliki sumur dangkal dan jauh dari sungai.
Suyati menyebut kondisi sulitnya air bersih di wilayah tersebut sudah terjadi selama bertahun-tahun khususnya di beberapa wilayah di daerah transmigrasi yang sebagian warganya berasal dari Cilacap Jawa Tengah dan sebagian berasal dari wilayah Tulungagung Jawa Timur dan Blitar serta menempati Dusun Trans Blitar. Bagi warga yang memiliki modal untuk membuat sumur dangkal, sebagian sudah membuat sumur. Meski saat musim kemarau debit air berkurang dan sebagian memanfaatkan fasilitas sumur bor komunal milik dusun yang digunakan secara bersama-sama.
“Air hujan masih tetap kami gunakan untuk keperluan mencuci piring dan keperluan mandi, mencuci pakaian. Sementara untuk memasak warga menggunakan air sumur bor mengambil menggunakan jerigen,” ungkap Suyati yang ditemui Cendana News di rumahnya di Trans Cilacap Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (22/7/2017).
Selain akses air bersih yang masih memanfaatkan air hujan, wanita yang sudah hidup menjanda dan tinggal bersama dua anak serta tiga cucunya tersebut mengaku masih tinggal di rumah geribik beralaskan tanah. Ia menyebut belum bisa membuat sumur dalam seperti warga lain dengan kondisi tanah padas dan kapur dimana proses pembuatan sumur di wilayah tersebut membutuhkan biaya cukup mahal. Secara bergantian bersama sang anak dirinya bahkan mengambil air dengan cara dipikul dengan sistem “ngangsu” air dan menyimpannya di beberap jerigen penampungan untuk kebutuhan selama beberapa hari.
Bak penampungan air hujan yang berada di depan rumahnya menurut Suyati dibuat menggunakan talang terbuat dari bambu sehingga air hujan yang turun dari genteng tertampung dalam drum terbuat dari plastik. Sebagai cara penghematan air bersih ia dan keluarganya bahkan sepakat menggunakan fasilitas air bersih yang disediakan di kamar mandi sebuah mushola yang disediakan oleh donatur untuk keperluan warga dengan fasilitas air bersih dengan sumur bor.
“Kalau sore kami mandi di fasilitas umum tersebut karena air hujan dan air bersih dari sumur kami gunakan untuk pagi hari kebutuhan cucu yang harus pagi berangkat sekolah,” terang Suyati.

“Kalau untuk keperluan selain minum dan mencuci kami masih mengandalkan air hujan serta air sumur bor yang kami gunakan secara bersama dengan warga lain,” terang Jumadi.
Jumadi menyebut kondisi sulitnya akses air bersih tersebut kerap terjadi menjelang musim kemarau dengan sumber mata air bahkan sumur dangkal yang tidak mengeluarkan air. Wilayah yang berada di perbukitan dengan dominan tanah padas tersebut membuat warga di wilayah tersebut masih mengandalkan air hujan yang ditampung saat hujan turun dan sebagian memanfaatkan fasilitas sumur bor umum.
Selain keterbatasan akan air bersih, sebagian warga yang memiliki pekerjaan pokok sebagai petani dan pekebun jagung dan pisang di wilayah tersebut dari pantauan Cendana News masih memanfaatkan fasilitas water closet (WC) seadanya terbuat dari geribik bambu. Sebagian warga bahkan mengandalkan WC umum dan sumber air bersih yang disediakan di salah satu mushola yang bisa dipergunakan secara bersama oleh warga.
