PALU — Achrul Udaya, seorang pemerhati ekonomi di Sulawesi Tengah mengatakan tata niaga beras perlu diperbaiki dengan memberikan peran lebih besar kepada Bulog sebagai BUMN yang membeli produksi petani serta KUD sebagai penyedia dan penyalur sarana produksi petani (saprodi).
“Menurut saya, pemerintah perlu menghidupkan kembali peran KUD seperti pada masa-masa yang lalu,” kata Achrul yang juga Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (Askindo) Provinsi Sulawesi Tengah di Palu, Senin (31/7/2017).
Ia mengatakan KUD pada masa orde lama dan orde baru sangat berperan dalam tata niaga pangan dan juga komoditas-komoditas lainnya yang dihasilkan petani.
KUD tidak hanya mengelola kegiatan simpan pinjam, tetapi juga menyalurkan saprodi yang dibutuhkan para petani di wilayahnya.
Dengan demikian, petani tidak mengalami kekurangan, apalagi kesulitan untuk mendapatkan saprodi sesuai kebutuhan karena stok selalu tersedia dalam jumlah memadai di KUD.
Pada saat musim panen, petani menjual kepada KUD dengan harga yang sudah ditetapkan sehingga tengkulak tidak bisa mempermainkan harga.
Namun, kata dia, sejak beberapa tahun terakhir ini, KUD tidak lagi berperan banyak seperti di era orde lama dan orde baru yang begitu terkenal.
Jumlah KUD saat ini sudah semakin berkurang karena berbagai usaha yang sebelumnya dikembangkan, kini tidak ada lagi. Karena itu, pemerintah harus kembali menghidupkan KUD yang pada tahun-tahun sebelumnya setiap desa di Sulteng ada KUD.
Pemerintah harus mendorong tata niaga pangan dengan memberikan peran lebih besar kepada KUD dan Bulog untuk mengelolah pangan sebagai kebutuhan pokok yang stok maupun harganya harus bisa dikendalikan oleh pemerintah.
Tata niaga juga perlu diperbaiki untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti adanya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab menyangkut beras oplosan dan plastik beredar di pasaran.
Dalam hal pengadaan beras, Bulog, kata dia perlu melibatkan pihak ketiga yang akan melakukan survior terhadap kualitas gabah maupun beras.
Dengan demikian, gabah maupun beras yang dibeli Bulog benar-benar kualitas tidak diragukan sehingga saat disimpan di gudang tidak akan cepat menurun kualitasnya.
Kalau gabah yang diperiksa adalah kadar airnya dan beras tentu yang diperiksa antara lain butir patahnya dan butir rusak. Sebelumnya memang melibatkan pihak ketiga. Tetapi beberapa tahun terakhir ini tidak lagi melibatkan pihak ketiga,” kata dia. [Ant]